Penumpang kereta api saat menjalani deteksi Covid-19 menggunakan GeNose yang bekerja menggunakan sampel napas. foto: Bisnis/Himawan L. Nugraha
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Meski belum ada instruksi dan juknis resmi dari Kemenkes terkait penggunaan alat GeNose untuk mendeteksi Covid-19, DPRD Kabupaten Pasuruan mendorong pemkab untuk mulai menggunakan karya anak negeri tersebut.
Hal ini disampaikan Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan, M. Zaini. Politikus PKS tersebut memandang, penggunaan GeNose juga lebih mudah dibanding dengan rapid test ataupun swab test yang cenderung menyiksa.
BACA JUGA:
- Dilema PPPK dan Napas APBD Pasuruan: Komisi I DPRD Cari Formula 'Bensin'
- UMKM Pasuruan Naik Kelas: Komisi II Kawal Digitalisasi Pasar dan Bantuan Modal Pemuda-Perempuan
- Kolaborasi Mas Rusdi dan Gus Shobih Wujudkan Pemerintahan Akuntabel di Kabupaten Pasuruan
- Pemkab Pasuruan Ajukan Revitalisasi Pasar Wisata Cheng Hoo Rp66 Miliar ke Pemerintah Pusat
"Penggunaannya cukup mudah karena meniup kantong plastik, sehingga lebih memudahkan dalam proses tracing ataupun tracking, tidak menyiksa seperti rapid antigen ataupun swab," paparnya.
Karena itu, Zaini berharap GeNose ini bisa digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Pasuruan untuk tracing maupun tracking, mengingat beberapa sarana publik sudah memanfaatkan alat buatan UGM tersebut, antara lain stasiun-stasiun.
Apalagi dari sisi biaya, penggunaan GeNose bisa lebih murah. Memang mahal di awal, karena harga alatnya mencapai puluhan juta. Tapi biaya selanjutnya akan lebih ringan karena hanya membeli kantung plastik khusus yang bisa digunakan berulang-ulang, pengguna sebelumnya negatif Covid-19.

(foto: bisnis.com)
"Berbeda dengan rapid antigen yang tiap tesnya bisa menghabiskan Rp 130 ribu per orang, bahkan untuk untuk swab bisa mencapai Rp 800 ribu per orang.
Dikonfirmasi terkait usulan dewan, Asisten I Bidang Pemerintahan Kabupaten Pasuruan Rahmat Syarifudin mengaku belum bisa memberi banyak komentar. Ia mengakui dari sisi kemudahan, GeNose memang lebih nyaman ketimbang swab ataupun rapid antigen.
"Namun sisi akurasinya masih perlu dipastikan. Apalagi, belum ada juknis dari kemenkes berkaitan dengan GeNose ini. Jadi, diagnosanya (sementara) masih dengan swab PCR dan ditambah rapid antigen," bebernya.
Sekadar informasi, GeNose ternyata sudah digunakan oleh Ponpes Darullughah Wadda'wah di Kecamatan Bangil. Salah satu Pengasuh Pesantren Darullughah Wadda’wah Ustad Akhmad Fauzi Hamzah membenarkan penggunaan GeNose untuk mendeteksi Covid-19 di pondoknya.
"Penggunaannya lebih mudah dan cepat. Cukup 2 sampai 3 menit hasilnya sudah keluar. Berbeda bila memakai rapid test ataupun swab yang harus menunggu puluhan menit, bahkan berjam-jam," jelasnya (adv/bib/par/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




