Senin, 14 Juni 2021 09:00

Gus Nadir: Pemilu Serentak 2019 Brutal, Mahal, Pakai Isu Agama, dan Terjadi Dinasti Politik

Sabtu, 17 April 2021 21:20 WIB
Editor: mma
Gus Nadir: Pemilu Serentak 2019 Brutal, Mahal, Pakai Isu Agama, dan Terjadi Dinasti Politik
Prof. Dr. Nadirsyah Hossen. foto: ist.

SURABAYA, BANGSAONLINE.COM – Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) yang juga dosen Monash University Australia, Nadirsyah Hossen menyatakan, agama dan demokrasi bisa berjalan beriringan. Sudah banyak penelitian menyatakan, peranan agama tidak hilang dari demokrasi. Terlebih di Indonesia.

"Indonesia memandang agama penting dalam kehidupan bernegara. Hanya saja pemahaman agama banyak modelnya, juga demokrasi, banyak ragamnya," tegas Gus Nadir – sapaan akrab Nadirsyah Hossen - dalam webinar Tadarus Demokrasi, Relasi Agama, dan Demokrasi, yang diselenggarakan oleh MMD Initiative, Jakarta, Sabtu (17/4).

Menurut dia, kombinasi yang tidak pas antara agama dan demokrasi akan melahirkan anomali. Agama akan mengubah demokrasi menjadi agamis, ataupun sebaliknya. Di Indonesia masih terus mencari koordinat yang tepat.

"Indonesia tidak ingin mengubah NKRI menjadi negara Islam. Atau sebaliknya menjadi negara sekular. Dan Indonesia masih terus cari kombinasi yang tepat," lanjut Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa NU di Australia dan Selandia Baru ini.

BACA JUGA : 

Tak Berani Kontrol Pemerintah, Ormas Keagamaan Diminta Kurangi Syahwat Kekuasaan

Demokrasi Bisa Diisi Kebaikan, Bisa Diselewengkan, Jika Penganut Agama Gagal Isi Ruh Nilai Mulia

​Dahlan Iskan: Kudeta Myanmar, Demokrasi Mati, Tingggal Malaysia dan Indonesia

PWI Jatim Gelar Seminar Pemilihan Serentak 2020

Namun, sebagai catatan, demokrasi di tanah air punya persoalan internal. Pemilu serentak 2019 sangat melelahkan dan brutal. Bukan hanya membelah bangsa, tetapi antarkandidat bersaing tidak sehat di mana isu agama dipakai untuk kampanye. Selain itu, pemilu dan pilkada serentak di Indonesia banyak terjadi dinasti politik.

Menurut Gus Nadir, demokrasi demikian bukan hanya brutal, tapi mahal. "Kalau demokrasi malah menumbuhkan oligarki dan menjadikan agama sebagi isu utama setiap pemilihan, maka kehidupan demokrasi akan mengkhawatirkan," ingatnya.

Dalam webinar ini Menkopolhukam Mahfud MD hadir sebagai keynote speaker. Hadir juga dosen Fisipol UGM Abdul Ghaffar sebagai pembicara. (tim)

Khilafah Proyek Politik Inggris? Ini Alasan Hizbut Tahrir Bolehkan Cium Cewek Bukan Muhrim
Minggu, 13 Juni 2021 14:58 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Prof. Dr. K.H. Imam Ghazali Said, M.A. mengungkapkan bahwa upaya menghidupkan sistem pemerintahan khilafah adalah fatamorgana. Tapi Hizbut Tahrir ngotot mau mendirikan khilafah. “Khilafah yang sudah ambruk mau...
Jumat, 04 Juni 2021 10:27 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Bukit Kehi, destinasi wisata yang satu ini berada di Kota Pamekasan. Bukit Kehi menawarkan pemandangan daerah pegunungan yang hijau mempesona. Pengunjung bahkan bisa berenang di sejuknya hawa pegunungan di pulau gar...
Senin, 14 Juni 2021 06:50 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Membentak dan memarahi ternyata tak selalu jelek. Kadang justru bisa mengubah sejarah. Atau mencipta sejarah.Inilah yang terjadi antara Chairul Saleh dan Mochtar Kusumaatmadja. Saat perjuangan kemerdekaan RI. Ta...
Minggu, 16 Mei 2021 06:58 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*65. fawajadaa ‘abdan min ‘ibaadinaa aataynaahu rahmatan min ‘indinaa wa’allamnaahu min ladunnaa ‘ilmaanLalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berika...
Sabtu, 12 Juni 2021 09:55 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...