Senin, 10 Mei 2021 13:55

Era Vaksin Sudah Lewat! Pionernya Jenner 200 Tahun Lalu, Ganti Hasil Riset Baru, I-Nu

Minggu, 18 April 2021 13:03 WIB
Editor: mma
Era Vaksin Sudah Lewat! Pionernya Jenner 200 Tahun Lalu, Ganti Hasil Riset Baru, I-Nu
Dr Tifauzia Tyassuma, M.Sc. foto: disway

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Ini benar-benar pemikiran baru, maju dan progresif. Dr Tifauzia Tyassuma, M.Sc, dokter ahli bidang epidemiologi, menilai bahwa era vaksin kini sudah lewat. . 

Vaksin, kata dokter berwajah cantik itu, sudah berumur 200 tahun, sejak kali pertama ditemukan. Karena itu ia mengusulkan agar vaksin diganti hasil riset baru. 

Loh, apa sudah ada?

Dokter ahli penyebaran virus/penyakit itu mengungkap bahwa vaksin dari asal kata vaccination.

BACA JUGA : 

Revolusi Energi untuk Kebangkitan Negeri

Prahara Rumah Tangga Pemilik Empire Palace Surabaya, Setrap Istri Berdiri Semalam Suntuk

Ketika Surat Kabar The Straits Times Singapura Jadi Lembaga Not For Profit

​Ekonomi Triwulan Pertama 2021 Minus, Covid Varian Baru juga Mencemaskan

“Artinya metode untuk memasukkan kuman (virus) yang berasal dari sapi (Vacca) kepada tubuh manusia,” kata Tifauzia Tyassuma dikutip Dahlan Iskan dalam tulisannya yang dimuat Disway, HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com, Minggu (18/4/2021).

“Waktu itu, pionir vaksinasi, Edward Jenner, di tahun 1789, memasukkan Virus Variola dari Kuda (loh gimana sih kok malah kuda?) ke tubuh seorang remaja usia 15 tahun. Nama remaja kecil itu James Phepps. Itu untuk melihat apakah si James bisa mendapatkan kekebalan yang diharapkan,” tulis Dahlan Iskan mengutip pernyataan Tifauzia Tyassuma.

James Phepps, waktu itu berumur 6 tahun, meninggal di usia 21 tahun.

Menurut Tifauzia, anak Edward Jenner sendiri bernama Janner juga jadi kelinci percobaan bapaknya. “Sang anak diberi injeksi kuman Variola setiap tahun. Janner, anak Edward itu, meninggal akhirnya. Kena pneumonia. Sad story,” tulis Dahlan Iskan.

Karena itu Tifauzia mengusulkan kepada dr Terawan yang kini gigih mengembangkan vaksin nusantara agar tak memakai istilah vaksin. "Jadi, saya usulkan ke Pak Terawan pakai saja nama Dendritic Cells Immunotherapy (DCI). Itu lebih bagus dan lebih tepat," tulis Tifa.

Untuk mudahnya lantas sebut saja I-Nu (Imunoterapi Nusantara). Nama I-Nu bisa lebih keren dan lebih millennial dari pada istilah Vaknus.

"I-Nu kalau diucapkan kan seperti I know. Saya tahu. Keren sekali," kata Tifa.

Usulnyi itu berdasar: ''Karena memang tidak ada sedikit pun virus atau pun potongan virus atau virus sintetis atau printing DNA atau spike atau apa pun dari virus itu yang masuk ke tubuh manusia, " tulis Tifa.

Lebih mendasar lagi, Tifa ingin I-Nu bisa mengakhiri sejarah teknologi vaksin. Yang umur penemuannya sudah 200 tahun.

Era vaksin, kata Tifa, seharusnya sudah lewat.

I-Nu itu, kata Tifa, bisa membuat sejarah baru peradaban manusia. Yakni sebagai suatu terapi personalized sekaligus sebagai tonggak penting.

I-Nu bisa diartikan sebagai dimulainya "Era Personalized Medicine atau Precision Medicine. Yakni Kedokteran Abad 21. Yang lebih mengutamakan pendekatan personal bagi setiap kasus yang dihadapi setiap manusia".

Kalau kita bicara tentang personalized medicine, maka metodologi riset klinis atau clinical research methodology harus banyak diubah dan dimodifikasi.

Riset baru, kata Tifa, sudah harus mengikuti arah perkembangan kemajuan Ilmu. Termasuk yang disebut sebagai Randomized Controlled Trials (RCTs) –yang menjadi syarat mutlak dilakukannya terapi medis bagi manusia.

Ya memang, kata Tifa, risikonya besar: pabrik farmasi dan produsen vaksin akan marah-marah. "I-Nu itu kalau berhasil bisa diterapkan untuk menangkal virus dan kuman apa pun," kata Tifa seperti ditulis Dahlan Iskan. (mma) . 

Penjaga Rumah Ibadah Bertanya Berapa Rupiah Jatah Tuhan
Senin, 10 Mei 2021 00:00 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Anekdot Gus Dur edisi Ramadan edisi 28 ini mereview cerita Gus Dur tertang para penjaga rumah ibadah. “Mereka berembuk soal sumbangan umat kepada rumah ibadah yang mengalami surplus. Lalu mereka bertanya, berapa ja...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Senin, 10 Mei 2021 05:19 WIB
Oleh: Dahlan Iskan --- LEBARAN kompak: hari Kamis, 13 Mei 2021. Maka, Disway edisi Rabu, Kamis, Jumat di sekitar Lebaran itu, saya akan menurunkan tiga tulisan tentang kebijakan energi untuk kebangkitan negeri.Lebaran tahun ini banyak waktu untu...
Rabu, 28 April 2021 14:16 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*61. falammaa balaghaa majma’a baynihimaa nasiyaa huutahumaa faittakhadza sabiilahu fii albahri sarabaanMaka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengamb...
Sabtu, 08 Mei 2021 11:38 WIB
Selama Bulan Ramadan dan ibadah puasa, rubrik ini akan menjawab pertanyaan soal-soal puasa. Tanya-Jawab tetap akan diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) d...