Minggu, 01 Agustus 2021 03:56

Era Vaksin Sudah Lewat! Pionernya Jenner 200 Tahun Lalu, Ganti Hasil Riset Baru, I-Nu

Minggu, 18 April 2021 13:03 WIB
Editor: mma
Era Vaksin Sudah Lewat! Pionernya Jenner 200 Tahun Lalu, Ganti Hasil Riset Baru, I-Nu
Dr Tifauzia Tyassuma, M.Sc. foto: disway

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Ini benar-benar pemikiran baru, maju dan progresif. Dr Tifauzia Tyassuma, M.Sc, dokter ahli bidang epidemiologi, menilai bahwa era vaksin kini sudah lewat. . 

Vaksin, kata dokter berwajah cantik itu, sudah berumur 200 tahun, sejak kali pertama ditemukan. Karena itu ia mengusulkan agar vaksin diganti hasil riset baru. 

Loh, apa sudah ada?

Dokter ahli penyebaran virus/penyakit itu mengungkap bahwa vaksin dari asal kata vaccination.

BACA JUGA : 

Gandeng Pemain Bola sebagai Duta Vaksin, Bupati Mojokerto Kejar Herd Immunity 70 Persen

Akidi Menampar Banyak Konglomerat Negeri Ini

Pengusaha Rendah Hati, Nyumbang Rp 2 Triliun ke Kapolda Sumsel, untuk Apa?

Tersentuh Mayat Dibisniskan, Andreas Gratiskan Pembakaran Mayat, Gubernur Ini pun Sigap

“Artinya metode untuk memasukkan kuman (virus) yang berasal dari sapi (Vacca) kepada tubuh manusia,” kata Tifauzia Tyassuma dikutip Dahlan Iskan dalam tulisannya yang dimuat Disway, HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com, Minggu (18/4/2021).

“Waktu itu, pionir vaksinasi, Edward Jenner, di tahun 1789, memasukkan Virus Variola dari Kuda (loh gimana sih kok malah kuda?) ke tubuh seorang remaja usia 15 tahun. Nama remaja kecil itu James Phepps. Itu untuk melihat apakah si James bisa mendapatkan kekebalan yang diharapkan,” tulis Dahlan Iskan mengutip pernyataan Tifauzia Tyassuma.

James Phepps, waktu itu berumur 6 tahun, meninggal di usia 21 tahun.

Menurut Tifauzia, anak Edward Jenner sendiri bernama Janner juga jadi kelinci percobaan bapaknya. “Sang anak diberi injeksi kuman Variola setiap tahun. Janner, anak Edward itu, meninggal akhirnya. Kena pneumonia. Sad story,” tulis Dahlan Iskan.

Karena itu Tifauzia mengusulkan kepada dr Terawan yang kini gigih mengembangkan vaksin nusantara agar tak memakai istilah vaksin. "Jadi, saya usulkan ke Pak Terawan pakai saja nama Dendritic Cells Immunotherapy (DCI). Itu lebih bagus dan lebih tepat," tulis Tifa.

Untuk mudahnya lantas sebut saja I-Nu (Imunoterapi Nusantara). Nama I-Nu bisa lebih keren dan lebih millennial dari pada istilah Vaknus.

"I-Nu kalau diucapkan kan seperti I know. Saya tahu. Keren sekali," kata Tifa.

Usulnyi itu berdasar: ''Karena memang tidak ada sedikit pun virus atau pun potongan virus atau virus sintetis atau printing DNA atau spike atau apa pun dari virus itu yang masuk ke tubuh manusia, " tulis Tifa.

Lebih mendasar lagi, Tifa ingin I-Nu bisa mengakhiri sejarah teknologi vaksin. Yang umur penemuannya sudah 200 tahun.

Era vaksin, kata Tifa, seharusnya sudah lewat.

I-Nu itu, kata Tifa, bisa membuat sejarah baru peradaban manusia. Yakni sebagai suatu terapi personalized sekaligus sebagai tonggak penting.

I-Nu bisa diartikan sebagai dimulainya "Era Personalized Medicine atau Precision Medicine. Yakni Kedokteran Abad 21. Yang lebih mengutamakan pendekatan personal bagi setiap kasus yang dihadapi setiap manusia".

Kalau kita bicara tentang personalized medicine, maka metodologi riset klinis atau clinical research methodology harus banyak diubah dan dimodifikasi.

Riset baru, kata Tifa, sudah harus mengikuti arah perkembangan kemajuan Ilmu. Termasuk yang disebut sebagai Randomized Controlled Trials (RCTs) –yang menjadi syarat mutlak dilakukannya terapi medis bagi manusia.

Ya memang, kata Tifa, risikonya besar: pabrik farmasi dan produsen vaksin akan marah-marah. "I-Nu itu kalau berhasil bisa diterapkan untuk menangkal virus dan kuman apa pun," kata Tifa seperti ditulis Dahlan Iskan. (mma) . 

Respons Keluhan Ojol Karena Terdampak Pandemi, ASC Foundation Bagikan Paket Sembako dan Uang Bensin
Kamis, 29 Juli 2021 13:40 WIB
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Muhammad Al Barra bersama Tim ASC Foundation-nya, telah menyalurkan paket sembako kepada para pedagang terdampak PPKM darurat di 12 kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Aksi sosial ini terus dilakukan Gus Barra. Kali i...
Kamis, 15 Juli 2021 06:50 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Ini ide baru. Untuk menyiasati pandemi. Menggelar resepsi pernikahan di dalam bus. Wow.Lalu bagaimana dengan penghulunya? Silakan baca tulisan wartawan terkemuka Dahlan Iskan di  Disway, HARIAN BANGSA dan B...
Selasa, 27 Juli 2021 06:32 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Mayat korban covid yang perlu dibakar – sesuai keyakinan mereka – terus bertambah. Bahkan menumpuk. Sampai perusahaan jasa pembakaran mayat kewalahan. Celakanya, hukum kapitalis justru dipraktikkan dalam pe...
Kamis, 15 Juli 2021 12:37 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*66. Qaala lahu muusaa hal attabi’uka ‘alaa an tu’allimani mimmaa ‘ullimta rusydaanMusa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajark...
Sabtu, 17 Juli 2021 10:23 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...