​Temuan Teknologi Anak Bangsa soal Nikel Terhambat Sistem Tender dan Pengadaan

​Temuan Teknologi Anak Bangsa soal Nikel Terhambat Sistem Tender dan Pengadaan Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Dahlan Iskan masih membahas soal nikel. Kali ini wartawan kondang itu menulis soal temuan teknologi anak bangsa terhalang sistem tender dan pengadaan.

Lalu bagaimana seharusnya? Dalam tulisannya berjudul Darurat Timur di Disway pagi ini, Kamis 2 September 2021, wartawan kawakan itu menulis gamblang. Dibawah ini BANGSAONLINE.com menurukannya secara utuh. Selamat membaca:

PERNAH ada anak bangsa menemukan teknologi pengolahan nikel dengan kimia. Seingat saya: seorang doktor dari ITS Surabaya. Tanpa dibakar seperti yang dilakukan sampai hari ini. Juga tanpa dipanasi sampai 700 derajat Celsius seperti yang ditemukan Widodo Sucipto (Baca Disway: Timur Musk dan Timur Terang).

PT Antam hampir saja mencoba cara baru itu. Agar terhindar dari mahalnya investasi membuat smelter. Akhirnya tidak berani. Takut jadi temuan BPK, Kejaksaan, dan KPK.

Itulah yang membuat saya berkesimpulan: penemuan teknologi anak bangsa tidak mungkin bisa berkembang!

Kesimpulan saya yang lain: sistem tender dan pengadaan harus diubah. Agar bisa mengakomodasikan penemuan teknologi dalam negeri.

Kesimpulan saya berikutnya: pengadaan teknologi anak bangsa harus melalui anggaran riset. Di pemerintahan maupun di BUMN. Berarti harus ada mata anggaran riset di setiap BUMN. Bukan saja untuk melakukan riset sendiri tapi, terutama, untuk membeli teknologi hasil riset anak bangsa.

Mengapa begitu?

Setiap pengadaan harus lewat tender. Bagus. Tapi setiap tender disertai syarat-syarat yang ”anti” penemuan dalam negeri. Salah satu syarat itu, misalnya: barang tersebut harus sudah begini dan begitu. Termasuk ”sudah pernah digunakan selama 3 tahun di sekian negara”.

Bagaimana penemuan anak bangsa bisa berkembang dengan sistem pengadaan seperti itu?

PT Antam akhirnya takut membeli teknologi baru tersebut. Takut disalah-salahkan. Apalagi kalau hasilnya kurang baik. Bisa dianggap melanggar aturan tender.

Saya tidak bisa berbuat lebih lagi. Expired date saya pun habis.

Itulah sebabnya saya memuji habis Widodo Sucipto dan Richard Tandiono. PT Nipress, yang menemukan teknologi STAL untuk pengolahan nikel telah berhasil menerobos semua itu.

Swasta memang tidak terikat dengan aturan seperti itu. Tapi mana ada swasta di dalam negeri yang mau melakukan riset seserius Nipress? Dengan komitmen yang begitu kuat? Dengan alokasi dana dan kesabaran sebesar itu?

Memang ada faktor Nipress telanjur masuk ke dunia lithium. Delapan tahun lalu. Telanjur investasi (baca Disway: Timur Musk). Richard sebagai dirut Nipress Energi Otomotif tidak mau investasinya jadi kuburan uang.

Maka keputusan Richard untuk menugaskan Widodo melakukan penelitian nikel sangatlah mendasar.

Widodo sudah lama jadi anak buahnya. Richard tahu kemampuan dan kesungguhan Widodo. Ayah mereka sama-sama orang Jawa Timur.

Widodo itu bukan saja lahir di Porong, sekolah SD pun di SD Negeri 2 desa itu. Karena itu teman-teman Widodo kebanyakan pribumi desa. Hanya ada 3 murid Tionghoa di antara 50 murid satu kelasnya. SMP-nya pun di SMP Negeri Porong filial Sidoarjo. Juga hanya ada 3 siswa yang Tionghoa.

Ketika mau masuk SMA, ayah Widodo ingin anaknya masuk SMA yang diasramakan. Yang disiplinnya keras. Yang mutunya baik. Yang ajaran budi pekertinya bagus. Cinta Tuhan. Cinta sesama manusia. Cinta negara.

“Saya dimasukkan SMA Santo Yusup Malang,” ujar Widodo. “Itulah SMA favorit untuk golongan Tionghoa-peranakan saat itu,” ujar Widodo.

Di zaman ketika lembaga pendidikan Tionghoa masih diizinkan, sekolah itu bernama Hwa Ind. Itulah sekolah Katolik yang didirikan masyarakat Tionghoa peranakan di Malang tahun 1951. Karena itu pasturnya pun Tionghoa: Joseph Wang.

Simak berita selengkapnya ...