Makan Durian Tak Boleh Disosor secara Kasar, Inilah Caranya

Makan Durian Tak Boleh Disosor secara Kasar, Inilah Caranya Dahlan Iskan

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Ternyata makan durian ada caranya. Tak boleh disosor secara kasar. Lalu bagaimana caranya? Simak tulisan wartawan terkemuka, Dahlan Iskan, di Disway dan BANGSAONLINE.com pagi ini, Ahad 14 Nopember 2021. Khusus pembaca di BaBe, klik “lihat artikel asli” di bagian akhir tulisan ini agar lengkap, tak terpotong. Selamat membaca:

LAMA-lama saya hanyut juga: ikut rombongan —!!!— Travellers, DT. Rutenya: Malang-Senduro di Lumajang.

Di Malang, Anda sudah tahu: wajib ke kebun duriannya Mas Yanto (Baca Disway: Pentil). Yang di dekat Gunung Kawi itu.

Ampun. Rakus semua. Makan durian seperti makan singkong saja. Termasuk ketika makan yang kelas Musangking. Saya pun harus mengajari mereka di bawah pohon yang penuh buah berduri itu: makan durian itu harus seperti makan es krim. Dicucup lembut, halus, sedikit sedikit, dengan bibir dan lidah, sambil mata agak terpejam.

Saya praktikkan di depan mereka bagaimana menikmati durian. Saya ambil yang Musangking. Saya peragakan cara itu dengan makan durian beneran.

Sangat pelan dan lembut. Lalu satu lagi. Juga pelan. Masih satu lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Tidak boleh disosor secara kasar.

Gila semua.

Setelah pelajaran pendek tersebut, mulailah dibelah durian ke dua: habis dalam sekejap. Pun yang ketiga dan seterusnya. Anak-anak muda memang tidak bisa diajak main halus.

Yang kumpul hari itu, Senin lalu, termasuk yang datang dari Samarinda, Makassar, Palembang, Banyumas, Tegal, dan Bandung. Masing-masing bercerita tentang kelebihan durian di kampung mereka.

Saya pun bertanya: adakah di tempat kalian orang seperti Mas Yanto. Yang berani membuang pentil-pentil durian yang begitu banyak. Kok tidak dibiarkan saja pentil itu jadi buah durian yang besar.

"Tidak ada," jawab mereka bergantian. Umumnya, pemilik pohon durian merasa sayang pentil yang begitu banyak dirontokkan.

"Ada!" ujar Pak Akhiong yang juga punya kebun durian.

Pak Akhiong bukan anggota DT. Ia tidak ikut hadir di Malang.

Pak Akhiong kirim WA ke sana -setengah mengoreksi Disway tentang keberanian Mas Yanto.

"Maaf saya sudah lama tidak berkomunikasi. Kemarin saya melihat youtube Traveller. Yang ada acara makan durian di Malang. Saya dengar bapak bicara begini: belum pernah ada pekebun di Indonesia yang berani membuang pentil atau buah durian sebesar bola tenis. Tentu itu tidak benar. Di Bangka, di kebun Jebus, Koba, maupun di Parit3 (Tupaicong) sudah dilakukan. Dari tahun 2018, 2019, hingga 2021. Pekebunnya membuang banyak buah. Disortir. Yang potensial saja dibiarkan membesar".

Terima kasih Pak Akhiong. Kian lengkaplah informasi tentang pentil durian.

"Teman saya di Medan juga sudah mulai melakukan itu," tambahnya.

"Di sana cara itu disebut apa?" tanya saya.

"Kami tidak tahu apa itu pentil. Atau apa itu buang pentil. Proses itu kami sebut pruning," ujar Pak Akhiong. Buah durian, ketika baru sebesar bola tenis atau bola takraw harus dipruning.

Simak berita selengkapnya ...