Gubernur Jatim Khofifah saat memimpin upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-94 Tahun 2022 di Alun-Alun Kabupaten Madiun, Jum'at (28/10/2022).
MADIUN, BANGSAONLINE.com - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong pemuda-pemudi Jatim menjadi 'game changer' atau para lakon yang mengubah jalannya permainan.
Menurutnya, sosok 'game changer' bakal menjadi penentu saat tengah berada di persimpangan antara maju dan mundur, antara hidup dan mati, antara dinamis atau statis. Mereka memiliki karakter inisiatif, kolaborasi, dan inovasi atau yang disingkat ‘IKI’.
BACA JUGA:
- Gubernur Khofifah Salurkan BLT DBHCHT Rp2,5 Miliar untuk 2.508 Buruh Linting Sampoerna Rungkut II
- Kontraktor Keluhkan Pembayaran Proyek PT INKA Madiun Belum Lunas, Tersisa Rp100 Juta
- Produksi Padi Jatim Naik, Gubernur Khofifah Optimis Surplus Beras
- 513 Rumah Warga Madiun Dapat Sambungan Listrik Gratis dari Program BPBL Seruni KMP Bidang IV
"Indonesia butuh lebih banyak game changer yang menjadi inisiator dan dengan segenap kemampuan yang dimiliki mampu merubah jalannya permainan perubahan peradaban, memunculkan sebuah realitas, dan kesadaran baru," ungkap Khofifah dalam upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-94 Tahun 2022 di Alun-Alun Kabupaten Madiun, Jum'at (28/10/2022).
Madiun sengaja dipilih Khofifah sebagai lokasi pusat penyelenggaraan peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini dengan alasan khusus.
Pasalnya, Madiun memiliki sosok pemuda pencetak sejarah yang berperan aktif dalam dua peristiwa yang menjadi tonggak sejarah nasional Manifesto 1925 dan Kongres Pemuda II. Sosok tersebut adalah Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo.
Sunario pemuda kelahiran Madiun 28 Agustus 1902 diketahui aktif sebagai pengacara. Ia membela para aktivis pergerakan yang berurusan dengan polisi Hindia Belanda.
Ia menjadi Penasihat Panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang melahirkan sumpah pemuda. Dalam kongres tersebut, Sunario menjadi pembicara dengan makalah Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia.

Lebih lanjut, Khofifah menyebut peringatan sumpah pemuda bukanlah sebuah rutinitas tahunan untuk bernostalgia. Melainkan harus menjadi pelecut semangat bersama untuk terus menggerakkan roda perjuangan pembangunan, mencapai cita-cita bersama, Indonesia maju.
Para pemuda dalam Sumpah Pemuda 1928, lanjut Khofifah, sebagian besar adalah bagian dari kaum aristokrat atau kaum terdidik yang mendapatkan pendidikan tinggi. Tidak sulit bagi mereka untuk dapat hidup mewah dan enak di bawah Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




