Suasana pertunjukan tari kolosal di Sendange Tirto Kamandanu. Foto: Ist
"Tentunya harapan kita tempat-tempat wisata yang ada di Kabupaten Kediri ini lebih dikenal masyarakat secara luas, tak hanya nasional tapi juga internasional," ungkapnya.
Pengarah acara Kediri Art Performance Ahmad Ikhwan Susilo menyebutkan, seluruh pemain yang tampil dalam Kediri Art Performance malam itu semua kelompok seni yang ada di Kabupaten Kediri. Lewat seni kolosal itu, ditunjukkan pula adanya regenerasi dalam berkesenian karena pemain yang terlibat, tak hanya pelaku seni tadisi yang sudah tua, melainkan juga dari kalangan pelajar, dan mahasiswa.
"Mereka bertemu dalam satu ruang, bekerja sama, berkolaborasi menyuguhkan pertunjukan ketoprak ini," terangnya.
Gaya panggung yang ditampilkan diakui berbeda dengan ketoprak dahulu. Hal itu tak lain supaya pertunjukan seni tradisional yang disuguhkan dapat diterima oleh semua kalangan dari jenjang usia yang berbeda. Sebelumnya pertunjukan seni tradisi juga pernah digelar di Candi Tegowangi.
"Pada tahun 2022 ini kali kedua, kita coba eksplorasi dengan gaya dan suasana yang baru," ucapnya.
Dikisahkan, Dewi Galuh Candra Kirana meninggalkan istana dan menyamar menjadi Panji Semirang. Dalam penyamarannya dia mengetahui calon suaminya Raden Inu Kertapati hendak dijodohkan dengan saudara tirinya Galuh Ajeng.
Tidak sanggup menerima keadaan, Dewi Galuh Candra Kirana hendak mengakhiri hidupnya. Dewa Narada datang menghentikan niat nestapa tersebut. Dewa Narada menasehati Dewi Galuh Candra Kirana dan mengutusnya menjadi Dalang Gambuh Asmorontoko untuk lelaku Mbarang Jantur. (tia/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




