Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa foto bersama para kades peserta diklat.
“Jadi apa yang kita anggap sudah terpublished, ternyata belum meluas. Jadi jangan pernah berhenti untuk berinteraksi lebih luas lagi. Maka diperlukan peran dari seluruh stakeholder untuk saling menggali dan mengeksplor seluruh potensi yang ada di desa masing-masing,” ujarnya.
Selain itu, sebagai bentuk penguatan bagi desa yang memiliki potensi untuk bisa menembus pasar luar negeri, Pemprov Jatim juga berkolaborasi dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) guna mengembangkan desa devisa.
“Dua tahun lalu, desa devisa kita hanya dua. Kini per 30 Mei 2023 desa devisa kita berjumlah 138 desa. Dan ini terbanyak di Indonesia,” ungkap Khofifah.
Dijelaskan, desa yang masuk ke dalam desa devisa akan mendapat pendampingan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Mulai dari pengembangan produknya, pengemasannya, hingga pemasarannya hingga ke pasar mancanegara.
“Kami terus berkeliling menggali potensi-potensi desa untuk bisa menjadi desa devisa selanjutnya,” imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyampaikan kepada para kepala desa bahwa saat ini Jaksa Agung RI tengah menggencarkan pembentukan restorative justice. Sebuah program yang diharapkan bisa menyelesaikan permasalahan ringan di desa melalui mediasi dengan kepala desa, babinsa, bhabinkamtibmas, dan tokoh masyarakat setempat.
“Saat ini Pemprov Jatim dengan dukungan Kajati Jatim dan Kapolda Jatim telah menggencarkan pembentukan restorative justice di tingkat sekolah. Hingga saat ini sudah ada lebih dari 900 sekolah,” ujarnya.

Terakhir, Gubernur Khofifah berharap peningkatan kapasitas ini bisa menjadi inspirasi bagi para kepala desa untuk mengembangkan desanya. Sebagai bagian dari penguat peran desa di dalam proses pertumbuhan ekonomi, menyerap tenaga kerja, serta dalam penurunan stunting dan penurunan kemiskinan ekstrem.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah juga mengajak para kepala desa melantunkan bersama lagu “Bendera” karya Cokelat Band sembari mengibarkan merah putih dengan semangat.
Sementara itu, Pj. Wali Kota Batu, Aries Agung Paewai, berterima kasih atas terpilihnya Kota Batu sebagai tempat diselenggarakannya diklat peningkatan kapasitas SDM bagi kepala desa angkatan I dan angkatan II tahun 2023.
“Kota Batu ada banyak sekali desa-desa yang memiliki potensi tematik. Saya harap bisa menjadi referensi dan inspirasi bagi para kepala desa untuk diterapkan di desanya masing-masing,” ujarnya.
Sebagai informasi, pelatihan ini diikuti oleh total 120 peserta yang terdiri dari 60 peserta angkatan I dan 60 peserta angkatan II. Peserta angkatan I antara lain berasal dari Kabupaten Ngawi, Kabupaten Magetan, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Bojonegoro, dan Kota Batu.
Sedangkan peserta angkatan II antara lain berasal dari Kabupaten Madiun, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Blitar, Kabupaten Kediri, Kabupaten Malang, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Sampang. (dev/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




