Prof. Dr. K. H. Abdul Syakur Yasin, MA atau yang biasa dipanggil Buya Syakur
"Apa artinya toleransi? Toleransi itu untuk wilayah yang sempit, (contoh) antara suami istri, suaminya tidurnya mendengkur, nah perlu toleransi istri," ungkapnya.
Dalam konteks berbangsa dan bernegara Buya Syakur tidak tertarik dengan konsep toleransi itu.
"Jadi masalah suami istri, tetangga itu toleransi, tapi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan keaneka ragaman budaya dan agama kita, ini bukan toleransi," ujar Kiai sepuh ini
"Ini bukan toleransi yang kita tuntut, tapi kesetaraan, ya setuju gak, ini persoalannya," sambungnya.
Beliau juga menjelaskan jika toleransi digunakan untuk menyembunyikan kebencian dengan proses tawar-menawar.
"Toleransi itu hanya menyembunyikan kebencian kok, dan terjadinya melalui bargaining tawar menawar, dan nanti di penghujungnya apa yang terjadi, pihak minoritas merasa berhutang budi kepada mayoritas," jelasnya.
Buya Syakur menekankan bahwa konsep yang tepat untuk mengganti toleransi dalam kehidupan berbangsa dalam keberagaman adalah prinsip kesetaraan.
"Kita menjunjung tinggi kesetaraan berdasarkan Undang-undang, gak ada beda agama, beda suku, beda warna, gak ada, siapa pun yang bawa KTP Indonesia ya berlaku Undang-undang untuk Indonesia,"terangnya.
"Jadi, akan lebih indah yang kita usung bukan toleransi, tapi kesetaraan," pungkasnya. (van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




