SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Program Dinas Pendidikan untuk melakukan penyegaran dalam bentuk rotasi guru, mulai bermasalah. Ditengarai, program tersebut tidak lagi berjalan. Hal tersebut perlahan menuai protes. Khususnya oleh seluruh guru-guru dari tingkat SD hingga SMA, yang telah menjalani program tersebut sejak lama.
Kemarin (24/7), beberapa perwakilan para guru mendatangi Gedung DPRD Surabaya. Sedianya para guru tersebut menyampaikan uneg-uneg mereka kepada Wakil Rakyat Surabaya.
BACA JUGA:
- Revitalisasi Dikebut, 5 Pasar Tradisional Surabaya Ditarget Tuntas Pertengahan Mei 2026
- Bukan Cagar Budaya Asli, Pemkot Surabaya Hapus Status dan Bongkar Fasad Eks Toko Nam
- Pendaftaran Beasiswa Pemuda Tangguh Dibuka, Pemkot Surabaya Fokus Jemput Bola untuk Warga Desil 1-5
- Surabaya Kejar Penunggak Nafkah, Sistem Notifikasi Muncul Otomatis
Kuraida, salah satu guru mata pelajaran Fisika meminta tegas agar program rotasi tidak dihapus dan dijalankan untuk tahun ajaran baru.
Menurut dia, sejak tahun 2013 sampai 2014, tercatat sebanyak 1.500 guru mengalami rotasi. Baik dari sekolah SD hingga SMA dan SMK. Namun, jumlah ini belakangan tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Kuraida menyatakan, program rotasi guru diindikasikan mulai tidak berjalan.”Ternyata belum tersentuh semua. Raja-raja kecil di sekolah-sekolah tidak ada yang dipindah. Ini kan jadi presepsi akhirnya. Ada apa ini?,” katanya.
Istilah Raja Kecil ini muncul saat program rotasi Guru awal kali digagas jaman Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya dijabat oleh Sahudi. Itu merupakan ‘pelintiran’ dari sebutan para guru-guru yang dianggap berprestasi. Selain itu, masa bakti mereka mengajar cukup lama. Sehingga dianggap lebih senior di sebuah sekolah.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




