Gus Miftah, Penjual Es, Kemarahan Netizen dan Hadits Rasulullah

Gus Miftah, Penjual Es, Kemarahan Netizen dan Hadits Rasulullah Miftah Maulana Habiburrohman alias Gus Miftah. Foto: instagram

Hujatan itu tidak hanya berupa tulisan dan video. Tapi juga berupa meme. Bahkan wajah dan tubuh Miftah direkayasa dalam berbagai rupa. Mulai wajah bertampang seram sampai wajah kocak penuh sinisme.

Yang unik, meski Miftah sudah minta maaf dan mengundurkan diri dari Utusan Khusus Presiden, tapi tidak reda. Mereka terus menghujat dengan berbagai alasan. Terutama alasan agama dan akhlak.

Ini tentu fonomena menarik. Belum pernah terjadi public figure atau pejabat publik dihujat sedemikian massif dengan hujatan kasar dan penuh kebencian seperti dialami Miftah. Padahal Miftah mengaku belum pernah mengambil gaji.

Tampaknya ini terjadi – sekali lagi – karena Miftah menggoblokkan si penjual es di depan publik, yakni jemaah pengajian. Diksi kasar itu bukan hanya menyakitkan hati si penjual es tapi juga mempermalukannya di depan umum. Akibatnya hati publik ikut terluka. Apalagi saat itu Miftah dan kiai-kiai disampinnya justru tertawa terbahak-bahak.

Tampak jelas bahwa Miftah dan kiai-kiai itu tak punya empati. Sehingga tidak hanya terkesan congkak dan sombong tapi juga krisis belas kasih dan kasing sayang. Suatu kondisi psikologis yang sangat berbahaya. Apalagi terjadi pada seorang kiai yang dalam perspektif keagamaan punya misi menebarkan kasih sayang sebagai wujud dari rahmatan lil’alamin.

Namun apapun alasannya, kita tidak bijak menghukum pendosa agama sekaligus pendosa sosial – termasuk Miftah – secara over dosis. Apalagi jika hukuman itu didasari kebencian.

Banyak sekali Hadits yang melarang kita membenci secara berlebihan. Diantaranya Hadits yang artinya:

“Cintailah orang yang engkau cintai seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR: Al-Tirmidzi).

Bahkan ada juga Hadits yang melarang kita menghina pendosa.

"Barangsiapa menghina atau menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu perbuatan dosa, niscaya dia tidak akan mati sebelum melakukan dosa yang sama." (HR. Turmudzi).

Wallahua'lam bisshawab

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Mumtaz Rais, Ketua PAN, Dianggap Lecehkan Ponpes Gus Miftah':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO