Dr. H. Romadlon, MM. Foto: istimewa
Di Blitar Selatan, kelompok gerilyawan PKI masih bertahan setelah tragedi 1965. Bersama ulama-ulama NU lainnya, KH. Yusuf Hasyim menginstruksikan Banser dan santri-santri untuk turut serta dalam operasi pembersihan sisa-sisa gerakan PKI yang bersembunyi di wilayah tersebut.
Di Madiun, daerah yang pernah menjadi pusat pemberontakan PKI tahun 1948 di bawah Musso, pengaruh komunis masih kuat. KH. Yusuf Hasyim menggerakkan GP Ansor, Banser, dan elemen masyarakat agar PKI tidak kembali mengancam stabilitas negara.
Sebagai Komandan Pusat pertama Banser, KH. Yusuf Hasyim berperan dalam menjadikan Banser sebagai benteng NU untuk menjaga ulama, pesantren, dan menghadapi ancaman komunisme.
*Beberapa alasan mengapa KH. Muhammad Yusuf Hasyim Layak Menjadi Pahlawan Nasional?*
Setidaknya ada lima alasan utama mengapa KH. Muhammad Yusuf Hasyim layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional:
Pertama, bahwa KHM. Yusuf Hasyim adalah sosok ulama pejuang yang gigih mempertahankan Pesantren Tebuireng dari agresi Belanda dalam Perang Kemerdekaan. Meskipun menghadapi kekuatan yang tidak seimbang, beliau bersama pasukan santri tetap berjuang hingga terpaksa mundur ke Nglaban. Dalam pertempuran sengit melawan pasukan Belanda, banyak korban berjatuhan, termasuk santri Dawam yang gugur, sementara KHM. Yusuf Hasyim sendiri terluka namun berhasil diselamatkan. Selain memimpin perlawanan santri, beliau juga menjalin kerja sama dengan kelompok nasionalis, termasuk membantu Batalyon 42/Diponegoro yang tercerai-berai setelah kekalahan di Pacet, menunjukkan peran strategisnya dalam perjuangan gerilya melawan penjajah.
Kedua, KHM Yusuf Hasyim adalah Pejuang Hizbullah. Terlibat langsung dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Mencapai pangkat Letnan Satu (Lettu) TNI dalam perjuangan melawan Belanda.
Ketiga, KHM Yusuf Hasyim adalah Komandan Banser. Dengan membentuk Banser sebagai benteng NU dalam menjaga ulama, pesantren, dan NKRI. Selain itu, memperkuat pendidikan militer dan ideologi kebangsaan bagi anggota Banser.
Keempat, KHM Yusuf Hasyim adalah Pahlawan Penumpasan G30S/PKI. Beliau berperan dalam operasi pembersihan simpatisan PKI di Madiun dan Blitar. Menggerakkan Banser dan santri untuk menumpas sisa-sisa gerakan PKI.
Kelima, KHM Yusuf Hasyim asalah sosok Pemimpin Pesantren dan Reformator Pendidikan. Yaitu, mengintegrasikan kurikulum agama dan umum di Pesantren Tebuireng. Juga, mempersiapkan santri menghadapi tantangan zaman dengan ilmu dan nasionalisme.
Oleh karena itu, dengan segala kontribusinya, KH. Muhammad Yusuf Hasyim bukan hanya seorang kiai, tetapi juga seorang pejuang sejati yang menghadapi penjajahan, komunisme, dan berbagai ancaman terhadap Islam serta NKRI. Saatnya Negara mengakui jasa KH. Muhammad Yusuf Hasyim sebagai Pahlawan Nasional!
*Wallahu A'lamu Bishawwab.*
--------------
*-Dr. H. ROMADLON, MM, alumnus S-3 UIN SATU Tulungagung. Pemberdaya Masyarakat di Bidang Sosial dan Pendidikan Islam. Wakil Ketua PW ISNU Jatim. Ketua Komisi Hubungan Ulama dan Umara MUI Provinsi Jatim. Ketua Yayasan Sosial dan Pendidikan Al-Huda Insan Kamila Grogol Kediri.*
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




