Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Thomas Andrews sebagai ketuanya menjawab, "Tuhan-pun tidak akan mampu menenggelamkan".
Ya, memang secara konstruksi, dek, kapal itu tangguh, berlapis, dan lengkap. Jika deck bagian bawah bocor, maka deck atasnya bisa berfungsi. Mesin hidup dan kapal tetap bisa melaju seperti biasa. Begitu pula dek atasnya.
Apa reaksi Tuhan?
Tuhan tidak perlu turun dengan banyak tenaga, cukup sang nahkoda dilalaikan. Kapal mewah itu melaju sesuai rencana dan aman-aman saja. Ketika kecepatan puncak, tiba-tiba sang nahkoda melihat ada gunung es tersembunyi di dasar lautan, sedikit menjulang dan tepat di depannya.
Diputarlah arah kapal demi menghindari kejadian yang tidak diinginkan, tetapi tidak bisa karena jarak sangat dekat. Bodi kapal sangat besar dan kecepatan sangat tinggi.
Akhir drama, oleh Tuhan, kapal itu cukup diserempetkan saja, sehingga mengakibatkan lambung kapal retak dan semakin retak, semakin parah dan akhirnya patah menjadi dua. Kapal tenggelam secara memilukan dengan sekitar 1.500 korban. Kapal itu hanya sekali pakai dan Tuhan memang Maha segalanya.
Selanjutnya, ingat penyanyi top asal Brazil? Selain vokalis dia juga penggubah lagu terkenal. Kesukaannya merokok dan meminum minuman keras. Ketika sedang manggung, dia menghina kesehatan dan bahkan menghina Tuhan, sambil merokok.
Asapnya dikepulkan ke atas banyak sekali sembari berkata: Hai Tuhan, asap ini untukmu. Isaplah dan enak sekali.
Beberapa hari kemudian dia masuk rumah sakit dan diketahui ada kanker aneh yang super ganas menggerogoti parunya secara radikal dan cepat. Sungguh di luar kebiasaan. Dia mati mengenaskan di usianya yang masih relatif muda, 32 tahun.
Dari ayat kaji ini bisa dipetik pelajaran. Pertama, seetan itu sangat lihai, licik, lembut ketika menggoda anak manusia demi terjerumus ke neraka menemani dia.
Kedua, bahwa menjadi juru bicara Tuhan itu tidaklah mesti berjalan mulus. Apalagi saat materinya tidak masuk akal.
Ketiga, pasti ada saja orang yang bawel dan ngerecoki, mengganggu niat baik anda, bahkan biasanya mereka bukan orang yang bodoh, melainkan orang yang berilmu, pinter, tapi keblinger. Seperti al-Nadlr yang berpengalaman kita samawi terdahulu, tapi ingkar terhadap kenabian Muhammad ibn Abdillah SAW.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




