Aguk Irawan MN. Foto: istimewa
Padahal sering kita mendengar adagium klasik NU: "Mempertahankan nilai-nilai lama yang baik, dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik" (al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah). Nilai lama yang baik adalah penghormatan terhadap hierarki, di mana Rais Aam adalah pucuk pimpinan spiritual. Nilai baru yang lebih baik mungkin adalah transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelola organisasi modern, yang juga harus diakomodasi tanpa menggerus marwah ulama.
Langkah bijaksana ala Gus Dur dalam situasi ini mungkin akan melibatkan beberapa hal:
Kembali ke Khittah: Menempatkan AD/ART sebagai pijakan, namun dengan kelenturan akhlakul karimah. Peran Syuriah sebagai otoritas tertinggi harus dihormati, namun Tanfidziyah juga berhak atas proses yang adil.
Dialog Tertutup, Hasil Terbuka: Konflik internal sebaiknya diselesaikan di ruang bahtsul masail internal, dengan Rais Aam sebagai penengah yang adil, bukan melalui "risalah bocor" yang memicu spekulasi publik.
Mungkin juga langkah bijaksana yang lain, sekali lagi, memberikan kesempatan yang adil bagi Ketua Umum Tanfidziyah untuk memberikan klarifikasi. Kemudian dengan kesatria dan bijaksana ia akan memilih mundur, sebab bagaimanapun ultimatum sudah dijatuhkan. Perlawanan atau pembangkangan, bisa merusak martabat masayikh dan tentu saja, demi keberlangsungan khidmah NU bagi negeri ini yang lebih kondusif, menyongsong satu abad, sementara konflik terbuka hanya akan melemahkan NU di mata umat dan bangsa. NU terlalu besar dan penting untuk sekadar menjadi panggung perebutan pengaruh.
Kita bisa belajar dari kutipan bijak para pendahulu. Hadratusyaikh K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri NU, yang berpesan agar menjaga persatuan umat lebih utama ketimbang memenangkan satu faksi. Atau pandangan intelektual Muslim kenamaan, Nurcholish Madjid (Cak Nur), yang sering mengingatkan bahwa substansi gerakan Islam adalah kemaslahatan, bukan perebutan jabatan semata.
Namun dalam peristiwa genting, sering muncul "tokoh" pahlawan kesiangan, yaitu ketika kondisi sedikit runyam, pahlawan itu datang, ia adalah Sekjen PBNU (Gus Ipul) yang menghimbau seluruh warga NU diharap tenang dan menjaga keteduhan. Fokus PBNU seharusnya pada persoalan umat yang lebih besar, bukan drama internal. Padahal hampir seluruh nahdliyin paham alurnya, rasanya sangat sulit diterima bahwa Sekjen tidak ada dalam sengkarut ini, bahkan mungkin dia lebih paham darimana awal badai ini berhembus?
Permintaan mundur Gus Yahya oleh Syuriah adalah episode baru dalam sejarah panjang dinamika NU. Ini bukan soal siapa yang benar atau salah, tapi soal bagaimana para kiai dan intelektual NU, dalam warisan tradisi Gus Dur, menemukan kembali jalan hikmah di tengah "angin ribut" kekuasaan. Sebab, pada akhirnya, yang "abadi" dari NU adalah perjuangan kiai, santri, dan umatnya untuk menjaga tradisi, bukan jabatan elit sebagai Pengurus Besar. Wallahu'alm bishawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






