Soroti Kasus Nenek Elina di Surabaya, Sejumlah Tokoh Madura Serukan Etika dan Persaudaraan

Soroti Kasus Nenek Elina di Surabaya, Sejumlah Tokoh Madura Serukan Etika dan Persaudaraan Acara Musyawarah Tokoh Madura yang digelar di Cafe Sky Bangkalan

Menurutnya, tidak sedikit yang mengalami perundungan, dikucilkan, bahkan merasa terasing akibat identitas kesukuannya.

Untuk itu, H. Syafiuddin mendorong para tokoh Madura, mulai dari tokoh agama, blater, kepala desa, hingga pemuda untuk duduk bersama dan bermusyawarah guna membangun persaudaraan serta memperbaiki citra Madura di perantauan.

Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan apresiasi kepada Soleh Abdijaya yang dinilai konsisten menyuarakan nilai cinta damai dan persatuan. 

Apresiasi juga diberikan kepada Ormas Madas yang disebut fokus pada advokasi persoalan masyarakat.

“Secara hakikat, orang Madura itu cinta perdamaian. Itu tercermin dari sejarah, salah satunya Muhammad Tabrani, tokoh Madura pencetus bahasa Indonesia,” cetusnya.

Ia mengingatkan seluruh ormas yang membawa nama Madura agar kembali pada visi dan misi organisasi sebagaimana tertuang dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART), yang menjunjung tinggi etika serta nilai-nilai luhur kehidupan.

Sementara itu, Mathur Husairi mengungkapkan pengalaman pahitnya sebagai orang Madura yang lahir dan besar di perantauan. 

Ia mengaku sempat enggan mengakui identitasnya sebagai orang Madura akibat kuatnya stigma negatif, termasuk saat berada di lingkungan kampus.

“Kasus Sambas dan Sampit meninggalkan trauma panjang. Meski konflik itu juga disusupi kepentingan besar, namun dampak psikologisnya masih dirasakan hingga sekarang,” ujarnya.