Acara Musyawarah Tokoh Madura yang digelar di Cafe Sky Bangkalan
Meski demikian, Mathur menegaskan bahwa mayoritas keturunan Madura di Kalimantan tidak menyimpan dendam, meskipun tragedi tersebut merenggut banyak korban jiwa.
Ia juga menyinggung peristiwa di Surabaya yang menyeret nama Madas . Menurutnya, tindakan tersebut dilakukan oleh oknum yang kebetulan mengenakan atribut ormas dan tidak mencerminkan jati diri orang Madura.
Mathur menilai kemunculan ormas-ormas baru turut dipicu oleh organisasi kesukuan lama yang dinilai terlalu elitis sehingga gagal mengakomodasi kaum muda Madura. Kondisi itu membuat generasi muda kehilangan figur panutan atau 'seppo' tempat mengadu.
Hal senada juga disampaikan Taufik, Ketua Madas Sedarah yang menyebut, pertemuan tersebut sebagai ruang muhasabah internal organisasi dan mengakui kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagian anggota Madas masih memprihatinkan.
“Jika tidak diwadahi dengan baik, ini sangat mengkhawatirkan,” ucapnya.
Ia bahkan menyatakan kesiapan untuk membubarkan Madas dengan catatan seluruh organisasi kesukuan juga dibubarkan secara menyeluruh.
Terkait insiden di Surabaya, Taufik menegaskan peristiwa itu terjadi sebelum dirinya menjabat sebagai ketua dan pelakunya bukan orang Madura.
Sementara itu, Ketua DPRD Bangkalan, Dedi menegaskan pentingnya mempelajari dan mengimplementasikan etika Madura dalam kehidupan di perantauan. Ia juga mendorong penegakan hukum yang tegas terhadap setiap pelanggaran.
“Ormas yang membawa nama Madura memiliki hak untuk berkumpul dan berorganisasi, tetapi juga wajib menjaga nama baik Madura,” tandasnya. (uzi/van)







