M. Mas'ud Adnan. Foto: bangsaonline
Oleh: M. Mas'ud Adnan
SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Salah satu grup platform sosial yang saya ikuti adalah “Menjaga Marwah NU”. Grup WhatsApp (WA) ini berisi 185 anggota. Banyak orang alim dan penting di grup ini: kiai, aktivis, intelektual, akademisi, pejabat, dan guru besar NU. Tentu juga wartawan.
BACA JUGA:
- Ketua Panitia Muktamar NU Harus Adil dan Netral, Bukan Kubu Kiai Miftah, Bukan Kubu Gus Yahya
- Heboh Lagi! Gus Yahya Dituding Catut Nama Rais Aam Tanpa Izin Kiai Miftachul Akhyar
- Dianggap Rugikan NU, Kemana Holland Taylor Pasca Konlik PBNU
- Empat Indikator Gus Yahya di Ujung Tanduk, Atasi Konflik NU Butuh Kiai Kharismatik dan Berwibawa
Seingat saya grup WA Menjaga Marwah NU itu berdiri sekitar 15 tahun lalu. Awet. Tepatnya beberapa minggu setelah Muktamar ke-33 NU di alun-alun Jombang. Yang berlangsung pada 1-5 Agustus 2015.
Tiap hari membahas NU. Terutama PBNU. Nah, pada Kamis (22/1/2026), banyak komentar menarik bermunculan. Lagi-lagi tentang PBNU.
“Diakui atau tidak kepengurusan PBNU sudah tidak efektif,” ujar seorang pengurus PCNU yang mantan wakil bupati dalam grup WA tersebut.
Komentar ini merujuk pada konflik PBNU, terutama antara Rais Aam Syuriah PBNU KH Miftachul Akhyar dengan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Yang sampai sekarang masih tegang.
Konflik elit PBNU itu sempat dimediasi untuk ishlah oleh kiai-kiai sepuh. Terutama kiai Lirboyo dan Ploso. Saat itu Gus Yahya sempat mendapat panggung. Bahkan di medsos ada tiga gus dielu-elukan sebagai orang sukses dan paling berjasa di balik ishlah itu.
Ternyata muspro. Hasil kesepakatan Lirboyo itu tak dilaksanakan. Baik oleh Gus Yahya maupun Kiai Miftchul Akhyar. Konflik pun terus membara. Sampai sekarang.
Otomatis NU berjalan tanpa PBNU. Maklum, PBNU sudah lumpuh. Proses administrasi juga macet. Apalagi program. Tanda tangan ketua umum dan rais ‘aam tak bisa bersatu di atas satu surat. Dua tokoh yang seharusnya jadi teladan warga NU itu jalan sendiri-sendiri. Baik rais ‘aam maupun ketua umum mengeluarkan surat sendiri-sendiri. Sesuka hatinya.
Konon gaji tenaga administrasi sempat macet. Jadi PBNU benar-benar lumpuh.
Tapi ajaibnya PWNU dan PCNU tetap jalan. Apalagi MWC dan ranting NU. Istighatsah, yasinan, lailatul ijtima’ dan amalan-amalan NU dari Hadratussyakh tetap terselenggara secara baik dan normal. Di berbagai daerah. Di berbagai kampung dan desa.
Mereka tak terpengaruh oleh konflik Kiai Miftachul Akhyar dan Gus Yahya. Ini berarti dua tokoh yang berseteru, tapi masih merasa sebagai Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU itu, tak ubahnya wujuduhu ka’adamihi (ada tapi tak berfungsi sama sekali sehingga seperti tak ada) bagi warga NU.
“Masyaallah, NU memang hebat. Tanpa PBNU, umat justru leluasa bergerak,” timpal guru besar NU yang mantan rektor UIN di Jawa Timur di grup Menjaga Marwah NU itu.
Menurut guru besar itu, keberadaan PBNU justru membuat NU ribet. Selalu ikut campur urusan yang seharusnya tak perlu ikut-ikut.
“Akibat campur tangan PBNU keadaan NU justru menjadi tidak dinamis,” tambah sang professor.
Ia mencontohkan tentang perguruan tinggi NU.
“Tidak sedikit perguruan tinggi NU misalnya, yang diintervensi PBNU menjadi semakin tidak jelas,” tegas sang guru besar yang juga bergelar kiai itu lagi.
“Tapi tidak berarti PBNU tidak penting. Adalah amat penting, tapi PBNU yang orang-orangnya paham tentang NU,” ujarnya lagi.
“NU diselamatkan oleh keadaan PBNU yang tidak jelas,” pungkasnya.
Saya menghela nafas. Baru kali ini eksistensi PBNU dipersoalkan sekaligus dianggap wujuduhu ka’adamihi. Ini tentu sangat ironis. PBNU seolah menjadi beban bagi NU. Bahkan dianggap sebagai “pengganggu” gerak dan laju serta keleluasaan program-program keumatan NU. Padahal secara historis kelahiran Jam’iyah Nahdlatul Ulama itu diawali dari pembentukan komposisi PBNU.
Ini berarti KH Miftachul Akhyar sebagai Rais ‘Aam Syuriah PBNU dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai Ketua Umum PBNU benar-benar sudah "tak dianggap" oleh warga NU. Tentu berikut jajarannya: Sekjen PBNU Saifullah Yusuf, Katib Aam Syuriah PBNU KH Ahmad Said Asrori, Bendara Umum PBNU Gudfan dan lainnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




