Luar Biasa! NU Tanpa PBNU Tetap Berjalan

Luar Biasa! NU Tanpa PBNU Tetap Berjalan M. Mas'ud Adnan. Foto: bangsaonline

Diakui atau tidak, kepemimpinan Kiai Miftachul Akhyar dan Gus Yahya di PBNU memang terburuk dalam sepanjang sejarah NU. Sedemikian buruknya sampai ada seorang kiai yang juga guru besar menyatakan bahwa satu-satunya “prestasi” dan Gus Yahya dalam mimpin NU adalah membuat kerusakan NU dan mempermalukan warga NU di depan publik.

Saya kira ada benarnya, meski tak sepenuhnya. Apalagi, ketika dua kubu itu saling serang di depan publik. Saya melihat banyak sekali “buzzer” tiba-tiba muncul saling hujat di media sosial. Akhlak yang selama ini menjadi pondasi dan barometer utama para kiai dan santri dicampakkan begitu saja gara-gara masing-masing membela dan Gus Yahya.

Alhasil, baik maupun Gus Yahya bukan hanya “sukses” membuat warga NU malu tapi juga telah menciptakan kegaduhan di depan publik yang konsekuensinya merusak citra NU.

Harus diakui, baru kali ini NU menjadi cemoohan dan hinaan masif masyarakat. Meminjam istilah Mahbub Djunaidi, kolumnis NU, martabat dan marwah warga NU jatuh ke comberan. Dan itu terjadi akibat konflik dan Gus Yahya. Yang sama-sama gagal menjaga marwah dan martabat NU. Yang juga sama-sama gagal memimpin NU.

Hebatnya, meski secara faktawi mereka gagal memimpin NU kabarnya mereka masih berminat untuk maju lagi sebagai calon Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU. Benar atau tidak wallahua’lam. Yang pasti, dari informasi yang beredar, tim mereka masih kasak-kusuk ke sana kemari.

Hanya saja putusan KPK mengumumkan Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka kasus korupsi kuota haji tampaknya membuat Gus Yahya harus berpikir seribu kali untuk maju lagi sebagai calon ketua umum PBNU.

Apalagi, pangkal cemooh dan hinaan terhadap NU itu adalah seuatu yang sangat mendasar bagi NU. Yaitu soal ideologi dan pragmatisme. Yakni ideologi zionisme Israel dan tambang.

Para intelektual NU, diantaranya Prof Dr KH Imam Ghazali Said, MA, menyebutkan bahwa zionisme itu menginfiltrasi paham Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdilyah lewat isu humanitarianisme. Diantaranya lewat Akademi Kepemimpinan Nasional NU yang mengundang Peter Berkowits, aktivis pro zionis Israel, yang sekarang dibubarkan.

Pendukung Gus Yahya di media sosial sempat “sukses” menggeser opini dari urusan ideologi zionisme ke persoalan tambang. Sehingga konflik elit PBNU itu seolah hanya karena faktor tambang. Lepas dari zionisme. Untungnya sebagian warga NU melek informasi. Sehingga mereka paham apa sebenarnya yang terjadi. Artinya, pangkal utama konflik bukan sekedar tambang tapi memang dua hal mendasar: zionisme dan tambang. Bukan salah satunya.

Yang harus dicatat, baik Gus Yahya maupun Kiai Miftakhul Achyar sama-sama “terlibat” dalam kasus zionisme dan tambang itu, baik langsung maupun tidak langsung. Dalam kasus zionisme, faktanya, Kiai Mifachul Akhyar yang menandatangi surat keputusan pengangkatan Charles Holland Taylor sebagai penasehat khusus ketua umum PBNU (Gus Yahya) di bidang internasional. Padahal semua orang tahu bahwa pintu masuk urusan zionisme adalah Holland Taylor.

Kabarnya, juga yang “memimpin” proses naik hajinya Holland Taylor. Paling tidak, rombongan PBNU yang saat itu ibadah haji bersama Holland Taylor didampingi Kiai Miftachul Akhhar. Bahkan menurut berita di media, dalam proses ibadah haji rombongan Holland Taylor itu juga sempat ada acara ulang tahun .

Berarti happy-happy saja dengan Holland Taylor saat itu. Artinya, pengasuh Pondok Pesantren Miftahussunnah Kedung Tarukan Surabaya itu tak menolak kehadiran Holland Taylor, meski kemudian ia memecatnya dari posisinya sebagai penasehat khusus ketua umum PBNU di bidang internasional.

Begitu juga dalam kasus tambang. Kiai Miftakhul Achyar dan Gus Yahya diduga terlibat langsung. Dalam Majalah Tempo edisi 1-7 Desember 2025 dilaporkan secara gamblang. PBNU pimpinan Kiai Miftachul Achyar dan Gus Yahya mendirikan PT untuk tambang batu bara pemberian Presiden Jokowi itu. Namanya sangat keren: PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara (BUMN).

Tak main-main. Di PT yang mengurusi tambang itu mereka bagi-bagi posisi: Komisaris Utama, sedangkan Gus Yahya Direktur Utama. Suatu posisi yang sangat keren tapi sangat tidak elok sekaligus tak etis.

Bagaimana mungkin seorang pimpinan tertinggi organisasi keagamaan yang seharusnya zuhud justru menempati posisi komisaris utama dan direktur utama perusahaan tambang. Kenapa urusan bisnis yang profan itu tidak diserahkan kepada kader NU yang punya keahlian di bidangnya? Bukankah ini menimbulkan dugaan sensitif bahwa mereka telah mengkapling-kapling aset NU untuk kepentingan pribadi.

Seorang ulama atau kiai yang menjadi top leader organisasi keagamaan seperti NU secara moral sangat tidak pantas menjadi komisaris atau direktur perusahaan, kecuali perusahaan milik pribadi yang sebelumnya memang kaya raya. Bahkan banyak orang kaya raya ketika menjabat posisi formal justru mengundurkan diri dari jabatan komisaris dan direksi karena khawatir terjadi konflik kepentingan.

Karena itu wajar jika warga NU merasa prihatin dan malu ketika KH Said Aqil Siraj menjadi Komisaris PT Kereta Api Indonesia (KAI). Suatu tindakan yang dianggap tak bisa menjaga martabat jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) mengingat ia pimpinan tinggi organisasi keagamaan yang dianggap sakral.

Ironisnya, Kiai Said Aqil saat itu justru sempat memakai seragam atau uniform PT KAI di depan publik. Warga NU pun secara sarkastis menilai bahwa Kiai Said Aqil Siraj bukan saja tak bisa menjaga marwah jami’iyah NU, tapi juga telah menurunkan derajat menjadi “pegawai” kereta api yang bukan bidangnya.

Persepsi ini kemudian memunculkan asumsi bahwa para elit PBNU sekarang belum selesai dengan urusan ekonomi atau finansial sehingga memanfaatkan jabatan PBNU untuk kepentingan duniawi. Padahal h KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan para muassis NU lainnya sebaliknya. Hadratusyaikh dan para ulama itu mendirikan NU sebagai medan perjuangan justru mengorbankan harta, bukan untuk mencari harta di NU. Karena itu PBNU di era h dan para ulama wira’i sesudahnya, benar-benar berwibawa dan sangat dipatuhi sekaligus dibutuhkan oleh warga NU dan bangsa Indonesia.

Wallahu’alam bisshawab.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO