Tafsir Al-Hajj 30-31: Terhempas Angin Dahsyat

Tafsir Al-Hajj 30-31: Terhempas Angin Dahsyat Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.

Tafsir lain berkomentar, bahwa tamsilan di atas untuk kondisi sakaratul maut. Di mana orang durhaka akan seperti itu keadaannya. Memang jasadnya di atas ranjang, tetapi jiwa dan ruhya tersiksa macam itu, sebelum dia masuk ke liang lahat. Sungguh sangat mengerikan.

Rasulullah SAW pernah menggambarkan, bahwa nyawa orang beriman dan berbuat kebajikan kala dicambuk nanti bagai sehelai rambut yang ada di dalam tepung tapioca, lalu ujungnya ditarik keluar dengan lembut tanpa mengubah sedikitpun struktur tepung tersebut.

Sedangkan gambaran nyawa orang durhaka, baik kepada Tuhan, kepada orang tua, kepada kawan maupun tetangga, ketika sekarat bagaikan duri di dalam tenggorokan yang ditarik keluar secara paksa. Na’udz Billah min dzalik.

Hal demikian karena dosa yang mereka lakukan menjadi beban dan ganjalan. Dosa itu bagaikan karatan yang menempel di logam mulia. Saat sekarat, tergambarlah dosa-dosa tersebut di hadapan matanya, sementara dia tidak bisa mengelak dan hanya membelalak.

Makanya, orang meninggal sering kali matanya terbelalak. Tetapi tidak semua yang terbelalak adalah banyak dosa. Jika terbelalak haru diiringi wajah ceria nan senyum, maka pertanda takjub dan gembira melihat ilustrasi surga yang bakal dihuninya nanti. Sementara yang muram dan sedih pasti pertanda penyesalan. Ya, karena melihat tayangan neraka di depannya.

Dan sekarat itu super berat. Utamanya bagi yang durhaka kala hidup di dunia. Sekelas Rasulullah, Muhammad SAW, kurang baik apa, kurang mulia apa, kurang dekat apa kepada Tuhan. Tapi beliau mengerti itu dan merasakan itu. Buktinya, saat nyawa beliau mulai perlahan dicabut, beliau meminta malaikat pencabut nyawa berhenti sebentar.

Malaikat itu menurut dan bertanya, “untuk apa?”. Beliau menjawab, “beri aku kesempatan sejenak saja untuk berdoa kepada Tuhan, agar sakit sekarat yang bakal disandang umatku ditimpakan semua kepadaku”. Sungguh seorang Rasul yang mulia dan sangat belas kasih.

Ya, sekarat memang berat, karena akhir perjalanan hidup yang melelahkan. Ditambah, bahwa dosa adalah beban. Dosa kepada Tuhan belum diampuni dan dosa kepada sesama manusia belum dimaafkan. Sadarlah, bahwa debu itu terus menerpa diri ini dan tidak terlihat. Begitulah dosa, sering tidak kita sadari. Maka dituntut beristighfar setiap saat. Bersihkan meja dan semua perabotan, karena pasti berdebu meski kelihatan bersih.

Dulu, pada zaman Rasulullah SAW ada seorang pemuda yang menurut pandangan orang sebagai pemuda yang baik, pintar, dan ramah. Namun, saat mejelang kematian, susah sekali nyawa tercabut keluar. Megap-megap dan sambat–sambat. Ternyata ada informasi, bahwa dia suka menyakiti hati ibunya, hingga ibunya keluar dan tidak lagi hidup serumah dengannya.

Merasa kasihan, mereka lapor ke Rasulullah SAW dan beliau bergegas datang. Lalu bertanya: “di mana ibunya kini.?”. Kemudian dijawab: “Ibunya tidak tinggal di rumah ini, melainkan di desa sebelah sono”. Rasul: “Panggil dia datang kemari dan untuk memaafkan kesalahan anaknya”.

Para sahabat mematuhi perintah Rasululah SAW, akan tetapi si ibu menolak dan tidak mau datang. Mendangar itu, Rasulullah SAW bersuara keras: “Kalian segera kembali ke sana dan katakan, jika ibu tidak mau datang, maka anaknya akan saya bakar”. Hati sang ibu luluh dan segera datang, serta memaafkan kesalahan anaknya. Langsung nyawa sang anak lepas dengan lancar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO