Perajin Rebana di Blitar Bertahan di Tengah Sepinya Pesanan Ramadhan

Perajin Rebana di Blitar Bertahan di Tengah Sepinya Pesanan Ramadhan Tumpukan rebana hasil produksi Gito

KOTA BLITAR,BANGSAONLINE.com - Suara rebana yang biasanya ramai mengiringi lantunan salawat di bulan Ramadan kini terdengar lebih sunyi di sebuah rumah produksi sederhana di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul.

Di tempat itulah Gito, seorang perajin rebana, tetap bertahan menjaga tradisi membuat alat musik bernuansa religi meski permintaan tidak lagi seramai dulu.

Di sudut ruang produksinya, deretan rebana berbagai ukuran tampak tertata di rak kayu. Sebagian telah selesai dibuat, sementara beberapa lainnya masih setengah jadi menunggu proses penyelesaian.

Namun aktivitas di bengkel kecil tersebut tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Ramadan yang biasanya menjadi musim panen bagi para perajin rebana justru belum membawa banyak pesanan pada tahun ini. Produksi pun kini berjalan jauh lebih pelan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang produksinya tidak banyak. Karyawan juga sebagian diliburkan, hari ini hanya satu yang masuk,” ujar Gito sembari menunjukkan ruang kerjanya yang tampak lengang.

Menurutnya, pembuatan rebana saat ini tidak lagi dilakukan setiap hari. Ia hanya memproduksi ketika ada pesanan yang masuk dari pelanggan. Sebagian besar pesanan datang dari pondok pesantren atau dari para sales yang memasok alat musik ke sejumlah toko di berbagai daerah.

Beberapa pesanan terakhir datang dari wilayah Tulungagung, Trenggalek, hingga daerah sekitar Blitar.

Bagi Gito, kondisi ini terasa sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Ia mengaku penurunan permintaan mulai terasa sekitar tiga tahun terakhir.

Situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih serta melemahnya daya beli masyarakat turut memengaruhi penjualan rebana.

“Kalau dibandingkan dulu jauh sekali. Dulu sehari bisa kirim sampai 500 buah ke luar daerah. Bahkan pernah ekspor sampai Yordania,” kenangnya.

Meski pasar sedang lesu, Gito tetap mempertahankan kualitas produksi. Ia memastikan bahan baku yang digunakan tetap dipilih secara teliti agar suara rebana tetap nyaring dan daya tahannya terjaga.

Rebana buatannya dijual dengan berbagai ukuran dan harga. Untuk rebana kecil yang biasanya dijadikan mainan anak-anak, harganya berkisar mulai Rp 23 ribu untuk diameter 16 sentimeter hingga sekitar Rp 70 ribu untuk ukuran 26 sentimeter.

Sementara rebana yang digunakan untuk pertunjukan hadrah atau dimainkan secara profesional dibanderol sekitar Rp 300 ribu per unit dengan ukuran standar 30 sentimeter.

Di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, Gito tetap menyimpan harapan. Ia berharap suatu hari nanti denting rebana kembali ramai dipesan seperti masa-masa sebelumnya, sehingga rumah kerajinan kecil miliknya bisa kembali hidup dengan aktivitas produksi yang lebih stabil.

Sebab bagi Gito, rebana bukan sekadar alat musik. Di balik setiap bunyinya, ada tradisi, kerja keras, dan harapan yang terus dijaga agar tetap hidup dari generasi ke generasi. (tri/van)