Tumpukan rebana hasil produksi Gito
KOTA BLITAR,BANGSAONLINE.com - Suara rebana yang biasanya ramai mengiringi lantunan salawat di bulan Ramadan kini terdengar lebih sunyi di sebuah rumah produksi sederhana di Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul.
Di tempat itulah Gito, seorang perajin rebana, tetap bertahan menjaga tradisi membuat alat musik bernuansa religi meski permintaan tidak lagi seramai dulu.
Di sudut ruang produksinya, deretan rebana berbagai ukuran tampak tertata di rak kayu. Sebagian telah selesai dibuat, sementara beberapa lainnya masih setengah jadi menunggu proses penyelesaian.
Namun aktivitas di bengkel kecil tersebut tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.
Ramadan yang biasanya menjadi musim panen bagi para perajin rebana justru belum membawa banyak pesanan pada tahun ini. Produksi pun kini berjalan jauh lebih pelan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Sekarang produksinya tidak banyak. Karyawan juga sebagian diliburkan, hari ini hanya satu yang masuk,” ujar Gito sembari menunjukkan ruang kerjanya yang tampak lengang.
Menurutnya, pembuatan rebana saat ini tidak lagi dilakukan setiap hari. Ia hanya memproduksi ketika ada pesanan yang masuk dari pelanggan. Sebagian besar pesanan datang dari pondok pesantren atau dari para sales yang memasok alat musik ke sejumlah toko di berbagai daerah.
Beberapa pesanan terakhir datang dari wilayah Tulungagung, Trenggalek, hingga daerah sekitar Blitar.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




