Tumpukan rebana hasil produksi Gito
Bagi Gito, kondisi ini terasa sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Ia mengaku penurunan permintaan mulai terasa sekitar tiga tahun terakhir.
Situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih serta melemahnya daya beli masyarakat turut memengaruhi penjualan rebana.
“Kalau dibandingkan dulu jauh sekali. Dulu sehari bisa kirim sampai 500 buah ke luar daerah. Bahkan pernah ekspor sampai Yordania,” kenangnya.
Meski pasar sedang lesu, Gito tetap mempertahankan kualitas produksi. Ia memastikan bahan baku yang digunakan tetap dipilih secara teliti agar suara rebana tetap nyaring dan daya tahannya terjaga.
Rebana buatannya dijual dengan berbagai ukuran dan harga. Untuk rebana kecil yang biasanya dijadikan mainan anak-anak, harganya berkisar mulai Rp 23 ribu untuk diameter 16 sentimeter hingga sekitar Rp 70 ribu untuk ukuran 26 sentimeter.
Sementara rebana yang digunakan untuk pertunjukan hadrah atau dimainkan secara profesional dibanderol sekitar Rp 300 ribu per unit dengan ukuran standar 30 sentimeter.
Di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih, Gito tetap menyimpan harapan. Ia berharap suatu hari nanti denting rebana kembali ramai dipesan seperti masa-masa sebelumnya, sehingga rumah kerajinan kecil miliknya bisa kembali hidup dengan aktivitas produksi yang lebih stabil.
Sebab bagi Gito, rebana bukan sekadar alat musik. Di balik setiap bunyinya, ada tradisi, kerja keras, dan harapan yang terus dijaga agar tetap hidup dari generasi ke generasi. (tri/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




