Wiwik menambahkan, optimalisasi pasar juga memerlukan dukungan regulasi dari berbagai pihak agar program berjalan efektif.
“Itu yang diharapkan dari masukan-masukan, sehingga kita perlu dukungan regulasi dari berbagai pihak,” katanya.
Terkait kondisi beberapa pasar yang mulai sepi atau tidak terisi, pihaknya tengah menyiapkan konsep revitalisasi berbasis tema atau ikon tertentu.
“Yang tidak dihuni itu harus dibuat menarik, baik dari fasilitas maupun konsep transaksi, misalnya pasar tersebut punya ikon tertentu,” jelasnya.
Sebagai contoh, konsep baru dapat diterapkan di pasar tertentu untuk menghidupkan kembali aktivitas perdagangan.
“Misalnya di Pasar Tegalbotho, nanti bisa dikembangkan dengan konsep pusat transaksi tertentu yang menjadi daya tarik pedagang,” tambahnya.
Di sisi lain, fenomena pedagang yang berjualan dari rumah dengan konsep 24 jam juga menjadi perhatian pemerintah.
“Memang sekarang banyak yang berjualan di rumah dengan konsep 24 jam, dan itu menjadi masukan bagaimana pasar juga bisa didorong melakukan hal serupa,” ujar Wiwik.
Namun demikian, pihaknya mengakui belum memiliki data pasti terkait jumlah pedagang yang beralih ke sistem tersebut.
“Kalau sampai saat ini kami belum mendapatkan data secara pasti, tapi secara umum fenomena itu memang ada,” pungkasnya. (nga/yud/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




