Gus Lilur Ketum NBI saat bersilaturahmi dengan Menteri Agama RI, Prof. KH. Nasaruddin Umar
SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Netra Bakti Indonesia (NBI) mengusulkan komposisi kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 dengan menempatkan sejumlah kiai berpengaruh dan kalangan intelektual muda dalam struktur kepemimpinan organisasi.
Ketua Umum NBI, HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy, mengatakan Nahdlatul Ulama membutuhkan formulasi kepemimpinan yang mampu menjembatani otoritas keulamaan dengan berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks.
BACA JUGA:
- KPK Periksa Bendahara PBNU di Kasus Korupsi Kuota Haji
- Wakil Rais Aam Mundur dari Koperasi BUMNU, Kiai Afif: Saya Baru Tahu Kalau Jadi Pengurus
- Kiai Miftah Bantah Hadang Pesantren Lirboyo Jadi Tuan Rumah Muktamar NU
- Nama Tunggal di SK, Rais Aam Putuskan Lokasi Munas-Konbes NU di Ponpes Alfalah Ploso Kediri
“NU membutuhkan kombinasi antara kedalaman ilmu para kiai dan energi pembaruan dari generasi intelektual muda. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Justru harus dipadukan agar NU tetap menjadi penuntun umat sekaligus relevan menghadapi perubahan global,” kata Gus Lilur dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Dalam rancangan yang disusun NBI, posisi Rais Aam diusulkan dijabat oleh Said Aqil Siradj. Sementara jabatan Wakil Rais Aam diusulkan diisi oleh Afifuddin Muhajir dan Marzuki Mustamar. Adapun posisi Katib Aam diusulkan untuk Abdus Salam Shohib.
Pada jajaran Tanfidziyah, NBI mengusulkan Nasaruddin Umar sebagai Ketua Umum PBNU.
Ia didampingi oleh Nusron Wahid serta Alissa Wahid yang diusulkan sebagai Wakil Ketua Umum.
Sementara posisi Sekretaris Jenderal diusulkan dijabat oleh Yusuf Chudlori dan Bendahara Umum oleh Imam Jazuli.
Menurut Gus Lilur, komposisi kepengurusan tersebut disusun bukan semata berdasarkan tingkat popularitas tokoh, melainkan mempertimbangkan keseimbangan antara kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, dan kemampuan membaca dinamika perubahan sosial.
Ia menilai tantangan yang dihadapi NU saat ini jauh berbeda dibandingkan satu dekade sebelumnya.
“NU tidak cukup hanya menjaga tradisi, NU juga harus mampu memimpin transformasi. Karena itu, kami mengusulkan kepemimpinan yang memadukan kearifan ulama dengan perspektif intelektual yang adaptif terhadap perkembangan zaman,” kata Gus Lilur.
Ia menambahkan, sejumlah figur yang diusulkan NBI dinilai memiliki rekam jejak yang mampu merepresentasikan dua kekuatan utama NU, yakni otoritas keagamaan dan kemampuan membangun dialog dengan masyarakat modern.
“Paling penting bukan siapa yang menang, tetapi bagaimana NU tetap menjadi rumah besar umat Islam yang mampu melahirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa,” pungkasnya. (mdr/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




