Rofi mengaku, ia mewakili seluruh peternak Indonesia sudah mengadukan masalah ini sampai ke Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan dan Industri. Namun beberapa kebijakan pemerintah hingga saat ini dinilai belum berpihak pada kepentingan rakyat. Karena saat ini regulasi kebijakan pemerintah masih berpihak pada pemodal besar. Otomatis peternak rakyat kalah modal.
"Kalau pengusaha modal besar yang menguasai suplai pakan dan telur untuk ternak masuk ke pasar tradisional, maka kita sudah jelas kalah," keluhnya.
Sementara Bupati Blitar, Rijanto yang bergabung dengan peternak mengatakan jika pihaknya menjanjikan akan segera menfasilitasi kepentingan peternak ini ke pemerintah pusat. Hal ini agar harga telur di kabupaten Blitar yang menjadi penyuplai 30 persen telur nasional bisa kembali normal.
"Kesulitan dan masalah yang dialami para peternak ini juga merupakan kesulitan dan masalah yang dirasakan pemerintah kabupaten. Untuk itu minggu depan kita akan bersama-sama meminta pemerintah pusat untuk membangu mencari jalan keluar," jelasnya.
Dalam acara tersebut, selain doa bersama, bagi-bagi telur, dan makan ingkung bersama, juga dilakukan aksi teatrikal oleh para peternak yang menggambarkan keadaan dan kesulitan yang dihadapi para peternak di kabupaten Blitar. (blt1/tri/rev)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




