Prosesi larung menuju ke laut lepas. foto: Tari UTM/ BANGSAONLINE
SAMPANG, BANGSAONLINE.com - Rokat Tase’, satu budaya petik laut di Desa Nepa, Banyuates, Kabupaten Sampang, Madura. Selain Rokat Tase, ada juga Rokat Disa (bersih desa), dan Nyaddar (selamatan di ladang penggaraman).
Idealnya, Rokat Tase’ dilaksanakan di Desa Nepa sore hari Malam Jumat manis pada bulan Rajab. Namun, kegiatan ini dilaksanakan, malam Jumat lalu.
BACA JUGA:
- Diskopimdag Sebut Konflik Timur Tengah Belum Pengaruhi Harga Pangan di Sampang
- Bukan karena Konflik Timteng, Pemkab Sampang Sebut Stok LPG Dipengaruhi Permintaan Tinggi
- Konflik Timur Tengah Masih Panas, Disnaker Sampang Sebut Pengiriman Pekerja Migran Tetap Berjalan
- Diskominfo dan Dinsos Sampang Kolaborasi Siapkan Sosialisasi Larangan Medsos Anak di Bawah 16 Tahun
Rokat Tase’ adalah upacara untuk meminta kepada Tuhan, agar menyelamatkan nelayan dari bencana dan rintangan apapun saat melaut dan agar dapat hasil tangkapan ikan banyak.
Disediakan perahu kecil yang dihias dan berisi beraneka macam makanan sebagai sesaji untuk dilarung di tengah laut. Sesaji ini oleh masyarakat Desa Nepa disebut dengan Ghite’.
“Perahu kecil dihias dengan bendera merah putih, uang dan bunga. Arti uang di sini agar rejeki yang diletakkan itu bisa bertambah banyak setelah acara Rokat Tase’,” ungkap Suhari salah satu nelayan.
Selain pengharapan rejeki, Ghite’ juga melambangkan sebuah permohonan supaya mendapatkan berkah dari Allah SWT Yang Maha Esa dan leluhur sekaligus sebagai sarana untuk menolak makhluk-mahkluk jahat.
Klik Berita Selanjutnya






