Prosesi larung menuju ke laut lepas. foto: Tari UTM/ BANGSAONLINE
“Sesaji di perahu tersebut sesungguhnya tetap bertujuan kepada Allah SWT, agar diberi keberkahan dan keselamatan. Doanya itu ditujukan pada sesepuh yang sudah tidak ada dan juga tidak ada jin-jin jahat yang merugikan desa,” jelas Syarifudin, yang berprofesi sebagai nelayan juga.
Tradisi Rokat Tase’ pada dasarnya merupakan perpaduan ritual-ritual Islam dan kearifan lokal. Ritual-ritual Islam terekspresikan lewat pembacaan Al-Qur’an dan Sholawat Nabi. Sedangkan adat lokal meliputi aneka sesaji dan persembahan. Di luar kedua ritual itu, juga diselingi oleh atraksi kesenian tradisional seperti permainan alat musik, tarian tradisional dari para Tayub dan nyanyian lagu daerah.
Sebagai masyarakat dengan mayoritas anggotanya beragama Islam, Desa Nepa memaknai Rokat Tase’ lebih sebagai refleksi untuk mensyukuri nikmat dan berkah dari Allah Swt. Refleksi diaplikasikan dengan melaksanakan selamatan laut. Hal ini dilakukan masyarakat dengan tujuan mengucap rasa syukur kepada Allah Swt atas segala nikmat yang telah diberikan di tahun-tahun sebelumnya melalui laut.
Selain itu Rokat Tase’ dilakukan juga untuk memohon kenikmatan, kemakmuran dan diberi keselamatan di tahun-tahun selanjutnya. Masyarakat Desa Nepa melakukan tradisi Rokat Tase’ setiap tahunnya secara turun-temurun. (Tari UTM)

Bupati Fadhilah Budiono hadir dalam acara Rokat Taseh
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






