Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro, Cetak Mimpi Besar Anak Bantaran Bengawan Solo

Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro, Cetak Mimpi Besar Anak Bantaran Bengawan Solo Anak-anak belajar malam hari di Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro. Mereka pun mengaji dan salat berjemaah. foto: eky nurhadi/BANGSAONLINE

"Kerja sama itu selain memberi kontribusi positif untuk dunia pendidikan di sekitar wilayah Blok Cepu, juga secara tidak langsung meningkatkan kapasitas penggerak di Kampung Ilmu. Ya kami saling membutuhkan," ujarnya.

Kini, kata dia, orang tua yang mempercayakan dan menitipkan anaknya untuk belajar di Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro terus bertambah. Bukan hanya dari wilayah Purwosari saja melainkan juga dari Kecamatan Gayam, Padangan, Tambakrejo. "Apa yang kami perjuangkan disambut positif oleh warga. Dukungan dari warga ini semakin membuat kita semangat untuk mendidik anak-anak agar mereka kelak bisa mandiri dan meraih cita-citanya," ucapnya.

Tentunya, siswa yang kian bertambah, menjadikan kebutuhan tenaga pengajar pun meningkat tajam. Awalnya hanya ada tiga pengajar yakni Frensi Agustina, Muhammad Roqib, dan Min Qurin Amalia. Namun kini pengajarnya bertambah menjadi 12 orang.

Mereka semua lulusan sarjana dan bahkan ada yang lulusan pasca sarjana Unibraw Malang, Unesa Surabaya, ITS Surabaya, dan IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. "Jadi pengajar di sini mereka mengabdi, mendidik anak-anak di daerah pinggiran ini agar cerdas dan meraih mimpinya. Itulah cita-cita kami bersama, dan mimpi kami bersama," tandasnya.

Anak-anak yang belajar di Rumah Belajar YKIB ini juga merasa nyaman dan terasa belajar di rumah sendiri. Putri Aulia, siswa kelas 6 dari Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, misalnya setiap hari belajar di sini. Meski dengan keterbatasan sebagai anak yatim, dia justeru semangat menuntut ilmu di kampung ilmu YKIB. "Belajar di sini sangat nyaman dan menyenangkan. Guru-gurunya sangat bersahabat dan materi yang diajarkan sangat sesuai dengan kebutuhan saya. Meski terkadang sangat ramai, tapi saya bisa menikmati belajar di tempat ini," ujar Putri Aulia.

Setiap hari, Putri sapaan karibnya, diantarkan ibunya untuk belajar di Rumah Belajar YKIB ini. Meski terkadang hujan deras, ia tetap meminta diantarkan untuk belajar di tempat ini.

Maklum, karena proses belajar-mengajar di YKIB ini pada sore hari. Tepatnya mulai pukul 14.00 WIB sampai dengan pukul 19.00 WIB. Ratusan murid YKIB ini selain mendapat ilmu pengetahuan umum juga mendapat ilmu pengetahuan agama, mulai Alquran, kitab hingga salat jamaah Magrib dan Isya secara bersama.

Dengan semangat yang sejalan dengan slogan ExxonMobil, "Taking on the world's toughest energy challenges."Adalah sebuah mimpi besar, dengan berani mengambil tantangan terberat di dunia. Pun demikian dengan Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro. Awalnya hanya kegiatan belajar di satu dusun bantaran kali, Kecamatan Purwosari, kini dipercaya warga di Kecamatan Gayam, Padangan, Tambakrejo, untuk menitipkan anaknya belajar di YKIB.

Bukan tak mungkin, YKIB dipercaya warga se-Bojonegoro.

Ambil tantangan terbesarmu!

Kejar Mimpimu! (eky nurhadi)

Pulang sekolah, anak-anak memilih menghabiskan waktu di Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro. Mereka belajar dan bermain, sampai-sampai bergulingan di bawah kursi panjang. Ini adalah rumah ke dua bagi mereka. foto: eky nurhadi/BANGSAONLINE

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO