Sumamburat: “Ana Shooimun”

Sumamburat: “Ana Shooimun” Suparto Wijoyo

Untuk memberikan bonus amaliah puasa,ternyata Allah swttidak dibantu “ajudan” sebagaimana pemberian “wahyu” maupun piranti takdir lainnya. Allah swt sangat sungguh-sungguh dalam mengambil kendali langsung atas “tanda jasa” yang hendak diberikan-Nya kepada pribadi pemuasa.

Puasamu-puasaku-puasa kita niscaya menjadi media komunikasi yang paling terang tanpa gangguan “android ragawi” karena Allah swt hadir pada setiap deret kegiatan pelaku puasa. Maka tidaklah elok kalau kita main-main terhadap keajaiban menjalankan ibadah puasa ini. Tekadkan secara sempurna untuk berpuasa dengan deklarasi lelaku yang sudah sangat umum: berniat.

Puasa pasti digerakkan dengan niat sebagai inti keberangkatan penjelajahan jiwa-raga para pemuasa. Ucapkan dan laksanakanseluruh sendi peribadan untuk memasuki gerbang terhormat bulan Ramadhan 1440 H. Niat Ingsun Poso adalah penanda untuk terselenggarakannya panggung puasa Ramadhan yang memiliki beragam fenomena syariat yang sangat fenomenal: bertadarus, nderesKitab Suci, tiada henti untuk melantunkan ayat-ayat Illahi yang ternarasikan dalam Alquran.

Niat Ingsun Poso merefleksikan ujaran perjanjian yang sangat kontraktual dalam bingkai menjalankan ajaran-Nya bagi umat yang menyadari bahwa puasa memang harus digerakkan dari niat selaku fundamen keabsahannya.

Kata ingsun berkelindan dalam titik-titik ruhani untuk memaujudkan diri ini dalam telungkup kuasa Allah swt. Hamba mengerdilkan diri di haribaan-Mu yang hanya dapat dinalar dari kelambu semesta yang tengah terbentang. Betapa agung dan dahsyatnya kuasa-Nya dan manusia dengan puasa “mengikuti rute Illahiyah”. Beribadahlah, berpuasalah tanpa berpikir tentang bonus, melainkan hanya atas nama keimanan.

Inilah segmen harian selama setahun yang “dikurikulumkan” khusus untuk manusia beriman melalui mekanisme penyambutan bulan Ramadhan yang penuh suka cita. Berpuasa berarti menahan diri terhadap segala hal, bukan sekadar makan minum, haus dan dahaga, tetapi “mepes rogo njelentreh sukmo”, menahan nafsu untuk nendapatkan jalan kesempurnaan. Berpuasa itu ber-“ihdinashshiratal mustaqim”.

Berpuasa itu “bersahutan” dengan “rotasi penyadaran diri” yang hanya diutamakanbagi penjelajah yang tahu posisi. Mari terus menerus belajar berpuasa dari setiap “daun yang melambai”, sebelum puasa diubah selaksa guguran bungasaat “saur tengah malam”. Sampai di sini saya belum berkenan ngudoroso soal kecurangan pemilu yang semakin dahsyat terpanggungkan karena saya menyadarinya: Inni-shooimun – Ana Shooimun. SELAMAT BERAMADHAN.

*Dr. H. Suparto Wijoyo, Coordinator of Law and Development Master Program Post Graduate School Universitas Airlangga, Sekretaris Badan Pertimbangan Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Ketua Pusat Kajian Mitra Otonomi Daerah Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikmah Lamongan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO