Jumat, 04 Desember 2020 15:04

​Dibalik Tingginya Semangat Beragama

Rabu, 16 Oktober 2019 11:21 WIB
Editor: Tim
​Dibalik Tingginya Semangat Beragama
Khariri Makmun

Oleh: Khariri Makmun*

Fenomena semangat keberagamaan di tanah air semakin meningkat, hal itu ditandai dengan maraknya gelombang hijrah baik di kalangan artis, publik figur, maupun orang awam. Masifnya dakwah di media sosial disambut baik oleh netizen dan generasi millenial.

Mereka yang haus dakwah dapat dengan mudah memilih sendiri konten-konten dakwah yang mereka inginkan.

Namun, sayangnya semangat keagamaan yang tinggi dimanfaatkan oleh para dai media sosial untuk menyusupkan konten-konten dakwah bermuatan politik identitas.

Mereka tidak murni berdakwah, tapi memiliki misi politik kekuasaan dan memanipulasi keluguan para follower.

Karena itu di balik ghirah keislaman yang yang tinggi, ada beberapa gejala penyakit yang perlu diwaspadai :

1. Semangat beragama yang tinggi tidak diikuti dengan semangat meningkatkan keilmuan, memperluas wawasan dan membuka forum-forum kajian ilmiah yang terbuka dan inklusif.

2. Semangat Islam yang tinggi justru diperkuat dengan doktrin-doktrin sempit yang hanya mengukur kebenaran dari sudut pandang argumentasi/dalil tekstual dan menutup ruang perbedaan.

3. Semangat Islam yang tinggi tidak diimbangi dengan referensi bacaan bermutu yang dapat memperluas wawasan keislaman, tapi justru dilakukan pembatasan bacaan yang berakibat pada pendangkalan Islam dan mempersempit khazanah pemikiran.

4. Semangat Islam yang tinggi diikuti dengan pemahaman yang anti nasionalisme dan kebangsaan. Antara agama dan negara seolah-olah saling menegasikan dan diplot dalam alur yang saling berlawanan.

5. Semangat beragama yang tinggi dibungkus dengan mengobarkan rasa benci terhadap penguasa dan pemerintah. Maka muncullah kelompok-kelompok islam baru yang mendoktrin para pengikutnya untuk mengutuk semua keputusan dan kebijakan pemerintah serta menjadikan pemimpin negara sebagai musuh. Bahkan untuk mengukur tingkat loyalitas mereka terhadap Islam cukup diukur dengan seberapa keras dan bencinya mereka terhadap pemerintah. Dari doktrin ini maka munculah aksi-aksi teroris untuk menghabisi pejabat pemerintah yang dicap sebagai thogut (penguasa dzalim dan menindas).

6. Semangat beragama yang tinggi diikuti dengan membuka kanal politik identitas yang diarahkan untuk melemahkan ideologi negara, falsafah kebangsaan dan sistem pemerintahan.

7. Semangat beragama yang tinggi seharusnya dapat berkontribusi bagi kamajuan bangsa, memperkuat persatuan dan kesatuan bukan sebaliknya.

8. Semangat beragama yang tinggi harus diikuti dengan ilmu dan kearifan.

9. Jika semangat beragama didasarkan pada emosi dan kebencian maka semangat ini adalah sebuah kepalsuan. Yang hanya akan menjadikan agama sebagai pemicu kerusuhan, teror, huru-hara dan menghancurkan fondasi negara, bangsa dan kehidupan.

*Khariri Makmun, Direktur Rahmatan Lil Alamin Center (RAHMI CENTER).

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Selasa, 01 Desember 2020 16:52 WIB
PROBOLINGGO, BANGSAONLINE.com – Meletusnya Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, tidak mengakibatkan kenaikan material vulkanik di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo.Namun demikian, status Gunung Bromo tetap level II atau waspada. Sehingga pengunju...
Sabtu, 28 November 2020 22:34 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan --- Nahdlatul Ulama (NU) punya khasanah (bahasa) baru: Neo Khawarij NU. Istilah seram ini diintroduksi KH Imam Jazuli, LC, MA, untuk mestigmatisasi kelompok kritis NU: Komite Khittah Nahdlatul Ulama (KKNU). Khawarij ...
Rabu, 02 Desember 2020 21:44 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*39. walawlaa idz dakhalta jannataka qulta maa syaa-a allaahu laa quwwata illaa biallaahi in tarani anaa aqalla minka maalan wawaladaanDan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”Masya Allah, ...
Kamis, 03 Desember 2020 15:46 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A, dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wonocolo Surabaya. Silakan kirim...