Tafsir Al-Kahfi 21: Teologi Monumen

Tafsir Al-Kahfi 21: Teologi Monumen Ilustrasi Taj Mahal di India.

Di sinilah hebatnya al-Qur'an, hanya mengambil sisi amal ibadah dengan arah ke depan lebih baik. Masjid sebagai sarana ibadah, memohon ampunan dan berdoa kebajikan. Islam tidak selera memutar peristiwa masa lalu, apalagi yang kelam. Sekadar tadzkirah memang perlu. Tapi tidak patung.

Peristiwa perang Badar, Uhud, Ahzab yang super monumental tidak dibuatkan patung para korban, maupun para syuhada'. Bahkan pohon yang dulu dipakai Rasulullah SAW berteduh dan membaiat para sahabat pada "Bai'ah al-Ridlwan" yang diabadikan al-qur'an (al-Fath:18), ditebang oleh Umar ibn al-Khattab. Sekali lagi, demi menghilangkan kultus yang menyesatkan.

Semurni apapun data sejarah, seutuh apapun relief dan patung yang dibuat, hal itu tetap mengandung multi tafsir, meski pembuatnya hanya punya satu tafsir. Ambil contoh peristiwa Bom Bali oleh Amrozi dan kawan-kawan. Lalu di daerah itu dibuatkan monumen.

Maksud pembuatnya jelas agar masyarakat mengenang peristiwa itu sebagai peristiwa biadab dan melanggar Hak Asasi Manusia. Seterusnya, patung itu sebagai nasihat bisu agar tidak terulang lagi peristiwa yang tidak berperikemanusiaan itu.

Itu benar dari satu sisi, tapi sisi lain bisa beda. Itu memang bagus menurut pandangan mereka, itu sungguh pesan mulia, menurut mereka. Tapi tidak bagi Amrozi dan kawan-kawan. Mereka yang pro Amrozi, seaqidah dan seprinsip dengan jihad Amrozi, justru dipahami sebaliknya.

Bahwa, monumen itu berbicara soal totalitas keimanan Amrozi dan kawan-kawan yang sangat monumental. Bukti kegigihan perjuangan Amrozi membela agama Allah. Mereka ikhlas meninggalkan kenikmatan duniawi, demi memburu kenikmatan surga secara instan. Seterusnya, sang pembaca menjadi lebih semangat meneruskan perjuangan Amrozi. Kedua tafsir itu sah-sah saja.

Lain halnya bila monumen itu berupa masjid. Maka yang ada hanyalah proyeksi satu arah, yaitu Allah SWT, yaitu amal kebajikan, ketaqwaan ke depan lebih baik. Tidak ada keduniawian dalam masjid. Yang ada hanyalah sujud, dan sujud.

Lain lagi bila monumen yang dibangun sama sekali tidak bermaknakan agama, hanya murni budaya, semisal patung tokoh. Meskipun dipandang baik, tapi berpotensi kultus dan syirik. Ingat, perilaku kemusyrikan pertama di dunia, yakni terjadi pada zaman nabi Nuh A.S.

Ada lima orang yang dianggap paling shalih waktu itu, yaitu: Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr. Lalu dipatungkan, dijadikan monument dan kenangan. Dan akhirnya disembah sebagai Tuhan. Hal itu benar-benar berlawanan dengan prinsip keimanan yang diajarkan Nabi Nuh A.S. sehingga dakwah Nuh A.S. benar-benar kandas karena patung-patung tersebut (Nuh:23).

Atas dasar ini, kami memahami keberatan sebagian kawan-kawan muslim, hingga mengharamkan monumen berupa patung tokoh dan menganjurkan untuk dihancurkan. Tapi sabarlah sejenak dengan memandang kearifan budaya kita. Rasanya, jauh patung pahlawan itu disembah oleh masyarakat.

Al-maghfur lah K.H. Achyat Mojokerto, sebagai pewaris dan keluarga pejuang menolak pembuatan monumen patung. Dana yang ditawarkan pemerintah dialihkan untuk lembaga pendidikan, lalu jadilah sebuah bangunan yang bermanfaat.

*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO