BHS Ajak Bank BUMN Bantu Permodalan Kerajinan Payet

BHS Ajak Bank BUMN Bantu Permodalan Kerajinan Payet PEDULI UMKM: Bambang Haryo Soekartono (BHS) saat mengunjungi usaha perajin payet di Desa Pagerwojo, Buduran, Rabu (29/7). foto: MUSTAIN/ BANGSAONLINE

Kata BHS, para perajin payet ini juga butuh pendampingan terkait sejumlah hal. Mulai peningkatan skill hingga manajemen keuangan. Sehingga usaha mikro tersebut bisa lebih berkembang. BHS berharap, saat di amanahi sebagai bupati Sidoarjo, melalui dinas terkait bisa memfasilitasi pemasaran hasil kerajinan payet.

Di antaranya pemasaran secara offline dengan memajang produk payet di Sentral Market, yang rencananya bakal ada di Pondok Mutiara, dekat Jalan Tol Sidoarjo-Surabaya. "Saya juga akan meminta Juanda (bandara Juanda) dan Bungurasih (Terminal Bungurasih) menerima produk-produk kerajinan payet ini," ungkap mantan anggota DPR RI periode 2014-2019 ini.

Tak hanya itu, produk kerajinan payet juga bisa dipasarkan di stan rest area jalan Tol Sidoarjo-Surabaya, karena masuk wilayah Sidoarjo, wajib menampung 60-70 persen produk-produk Sidoarjo. 

"Bahkan kalau perlu, 80 persen produk Sidoarjo. Ditambah pemasaran online, tambah lebih bagus. Dan ini menumbuhkan ekonomi kerakyatan secara maksimal di Sidoarjo," pungkas alumnus ITS Surabaya ini.

Perajin pasang payet, Nurul Chomsah mengatakan usahanya sudah berjalan sekitar 15 tahun. Dia banyak menerima order memasang payet dari pabrik, yang produknya dikirim ke Jerman dan Italia. "Selain kebaya, saya juga mengerjakan payet untuk perlengkapan pengantin, mulai gaun kebaya, selop hingga masker," cetusnya.

Kata Bu Isa, panggilan akrab Nurul Chomsah, besar ongkos pasang payet pada kebaya tergantung dari tingkat kerumitan motif dan jumlah payet yang dibutuhkan. "Paling tinggi bisa Rp 2,5 juta. Minimal ya Rp 500 ribu. Kalau order banyak ya memang butuh tambahan modal," ungkap Bu Isa saat bertemu BHS. (sta/ian)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO