
BANGSAONLINE.com - Pesawat MH370 milik maskapai Malaysia Airlines, hilang pada Maret 2014, dengan membawa 239 penumpang, dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Beijing. Bangkainya diduga ditemukan di pulau terpencil, sekitar 7 km di utara Cape Tribulation, di Far North Queensland, Australia.
Puing dari pesawat MH370 yang hilang misterius, diduga ditemukan di pantai Queensland. Ini harapan baru untuk menguak penyebab kecelakaan pesawat itu.
Diawali Mick Elcoate, seorang nelayan melihat bangkai kapal terdampar di pantai pulau terpencil, pada Senin pagi. Dia mengira puing-puing bagian dari kemudi kapal pesiar, atau mungkin tab trim dari pesawat terbang. Namun dia kemudian melihat puing sayap pesawat yang telah dipenuhi kerang.
Mick memposting gambar puing secara online di grup Facebook Aircraft Maintenance Engineering.
Dia mengatakan banyak pengguna media sosial kemudian menghubunginya tentang kemungkinan puing itu milik pesawat Malaysia Airlines yang hilang misterius.
Peneliti penerbangan Mick Gilbert mengatakan kepada The Australian: "Bagian puing tidak menunjukkan pelapukan, dari warnanya, itu bukan Malaysia Airlines. Jika memang komponen pesawat, kemungkinan besar adalah bagian dari penerbangan Air Niugini 73 yang mendarat di landasan pendek di bandara Internasional Chuuk pada September 2018."
Pihak Australia menduga misteri hilangnya MH370 adalah ulah bunuh diri massal, dengan aktor pilot pesawat. Demikian kata mantan perdana menteri Australia sebelumnya, Tony Abbott.
Pilot Boeing 777 itu adalah Zaharie Ahmad Shah yang dituduh membajak pesawat, lalu menabrakkan ke laut Samudera Hindia yang terpencil. Juga sudah direncanakan matang-matang.
Laporan resmi Malaysia mengatakan tidak ada bukti Zaharie telah melakukan bunuh diri.
Malaysia, China, dan Australia, menghentikan pencarian di dasar laut Samudra Hindia, Januari 2017. Pencarian sudah berlangsung dua tahun, dan menghabiskan dana hampir Rp 2 triliun.
Pencarian tiga bulan kedua, yang dipimpin oleh Ocean Infinity, berakhir serupa pada Mei tahun berikutnya.
Pilot Zaharie Ahmad Shah.