Suasana Seminar Nasional bertajuk 'Mengkaji Peran Perempuan Dan Dukungan Media untuk meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kediri Tahun 2020'. (foto: ist).
"Hal lain yang perlu diwaspadai, adalah potensi disinformasi pemilihan 2020 saat Pandemi Covid-19. Kalau kita ingat pada tahun 2019, hoaks politik mendominasi. Sedangkan tahun 2020, dikhawatirkan muncul hoaks tentang tahapan pemilihan 2020. Dengan ini, maka media sosial menjadi saluran penyebaran hoaks yang tertinggi atau mencapai 87 persen," katanya.
Di tempat sama, Dr Dian Ferricha menyampaikan materi tentang 'Menggugah Kesadaran Perempuan untuk Memilih'. Hal itu karena perempuan punya peran penting sebagai tiang peradaban dan madrasah, termasuk punya peran pada kemajuan demokrasi di Indonesia.
"Saat ini perempuan harus sadar, untuk melihat isu di tengah publik, sehingga bisa mengambil sikap dalam berkontribusi pada Pilkada mendatang," katanya.
"Terkait prinsip demokrasi yang bisa dilakukan, terutama oleh kaum perempuan, di antaranya, meningkatkan partisipasi dari pasif menjadi aktif, serta ikut membantu Bawaslu melakukan pengawasan partisipatif, misalnya iklan, apakah sudah sesuai dengan aturan," paparnya.
"Tidak bisa kita melihat hanya ada paslon tunggal, karena sudah jelas kompetensinya. Hal itu tidak bisa demikian, tetap harus ada pengawasan publik agar ke depan, tidak semaunya sendiri," katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa keterwakilan perempuan pada tiap-tiap pilkada selalu meningkat. Yakni pada pilkada tahun 2014 baru tercapai 17 persen, sedangkan saat pilkada tahun 2019 hanya 20 persen. Meski demikian, angka itu belum memenuhi kuota keterwakilan perempuan 30 persen.
"Walau demikian, sesuai hasil riset yang dilakukan, sampai sekarang harapan kalangan perempuan pada pilkada, pada umumnya adalah ingin adanya perubahan dan meningkatnya kesejahteraan," pungkas Dian. (uji/ns)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




