Di Hadapan Raja Keraton Jogja, Kiai Hasyim Muzadi: Agama dan Negara Saudara Kembar

Di Hadapan Raja Keraton Jogja, Kiai Hasyim Muzadi: Agama dan Negara Saudara Kembar KH Hasyim Muzadi

BangsaOnline - Rais Syuriah PBNU Dr.KH.Hasyim Muzadi mengingatkan bahwa perang yang ada di Indonesia bukan perang antar agama, tapi perang antar kekuasaan kerajaan dan perang antar Indonesia dengan penjajah.

”Kita jangan sampai membenturkan agama dengan negara atau negara menabrak agama,” kata Kiai Hasyim Muzadi dalam acara Pengetan Hadeging Nagari Karaton Ngayogyokarto Hadiningrat ke-268Tahun atau peringatan berdirinya Negara Karaton Jogjakarta Hadiningrat yang ke -268 yang digelar di lingkungan Kraton Jogjakarta. Acara ini disemarakkan berbagai acara antara lain: khatmil Qur’an, tahlil dan do’a bersama. Hadir puluhan ribu masyarakat, tokoh, ulama, pejabat pemerintah, termasuk keluarga raja, diantaranya KGPH Hadiwinoto, GB PH Yudaningrat, GBPH Jayadiningrat dan Gusti Kanjeng Ratu Pembayun (putri Sri Sultan Hamengkubuwono X) . Kiai Hasyim yang juga anggota Wantimpres RI diminta menyampaikan ceramah agama dalam acara agung tersebut. Kiai Hasyim Muzadi dianggap sebagai kiai sepuh yang dihormati pihak keraton.

Dengan menyitir pendapat Imam Ghazali, Kiai Hasyim memapaparkan bahwa Al-ddin wal mulkutau’amani faddinashlun wassulthanu haarisun (agama dan negara itu saudara kembar, agama sebagai pondasi dan pemimpin sebagai penjaga).

Rais Syuriyah PBNU ini juga menuturkan bahwa agama, negara dan budaya memiliki posisi yang sangat penting dalam membangun karakter bangsa. Indonesia memiliki banyak agama, budaya, adat istiadat yang berbeda. Kondisi ini jangan sampai menjadikan konflik horizontal ditengah-tengah masyarakat.

”Kita harus berpijak pada piagam Madinah yang dibuat oleh Nabi Muhammad SAW,” kata pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang dan Depok Jawa Barat ini.

Diantara isi Piagam Madinah itu adalah Al-ukhuwah bainal muslimin (persaudaraan diantara umat Islam), dan terhadap diluar Islam yang beda aqidah dan syari’ah kita nyatakan lakum dinukum waliyadin (untukmu agamamu dan untukkulah agamaku), serta seluruh elemen masyarakat (baik agama, suku, dan golongan) yang ada di Madinah harus saling tolong menolong dan harus mempertahankan negara dari serangan pihak luar.

”Jadi religiusitas dan nasionalisme harus menjadi pijakan dalam berbangsa dan bernegara,” tegas Abah Hasyim, panggilan Kiai Hasyim Muzadi.

Indonesia, kata Kiai Hasyim, penduduknya mayoritas Islam karena Islam yang diperjuangkan oleh para Wali Songo dan para raja Islam serta para kiai tidak bersifat formalistik melainkan Islam yang substantif.

”Misalnya Raden Ja’far Shadiq di Kudus membuat masjid yang pinggirnya hampir sama dengan bentuk Pura, bahkan karena umat Hindu memuliakan sapi, maka saat Idul Qurban, umat Islam dianjurkan berkorban dengan kerbau, bukan dengan Sapi,” kata mantan ketua umum PBNU dua periode itu sembari menegaskan bahwa para wanita muslimah tidak pakai cadar, karena kondisi alam Indonesia berbeda dengan Arab. ”Kalau perempuan Arab pakai cadar sebab kondisi alamnya berdebu dan sangat panas,” katanya.

Di Indonesia, kata Kiai Hasyim,para kiai menekankan agar pakaian laki dan perempuan harus menutup aurat, dengan bentuk dan model sesuai dengan budayanya masing-masing.

”Dalam hal seni kalau di Arab pakai Rabbana, sedangkan di Jawa pakai Gong. Itu semua agar agama dan budaya jangan sampai dibenturkan. Sehingga agama, negara dan budaya sebagai payung dan landasan dalam membangun karakter bangsa,” katanya.

Kiai Hasyim Muzadi juga menyerukan agar ilmu dan amaliah dilaksanakan secara bersamaan. ”Misalnya wajib salat lima kali sehari. Lha kok salat lima hari sekali, ini berarti ilmu dan amaliah tidak sejalan,” katanya disambut tawa hadirin.

Begitu juga Islam mengajarkan jangan membunuh, merampok, mencuri dan berbuat dhalim. ”Lalu kenapa ISIS perilakunya seperti itu, artinya Islam dan muslim dua hal yang berbeda, ajaran Islam luhur, tapi perilaku pemeluknya tidak luhur,” katanya.

”Kita berharap tidak ada banjir, tapi hutan dibabat, gunung digundulkan. Negara itu akan makmur kalau ilmu dan amaliah berjalan dengan baik, termasuk menegakkan keadilan. Oleh karena itu Rahmannya Allah akan diberikan kepada negara yang menjauhi kedhaliman dan menegakkan keadilan,” katanya.

Sementara Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hadiwinoto dalam sambutannya menyatakan bahwa sejarah kerajaan karaton Ngayoyokarto Hadiningrat ini tidak terlepas dari sejarah Majapahit dan Kerajaan Islam Demak yang dipimpin oleh Raden Patah. Terbukti di Keraton ini ada Bendera dan Koin Mas yang bertuliskan Lailahaillallah. Gelar resmi Raja Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat, menunjukkan bahwa agama,negara dan budaya sebagai piranti membangun karakter bangsa. (HMS)