Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie.
Kedua, “rahmah Minna” menunjuk jarak antara pemberi rahmat dengan penerima tidak jelaskan, bisa dekat atau jauh. Pokoknya dari Tuhan, titik. Seperti anda mendapat kiriman parsel dari teman jauh. Itu “minna”.
Sedangan “rahmah min ‘Indina”. Kata “inda” yang berbentuk dharaf makan menunjuk makna: pangkuan, saking ngerso Dalem Gusti Allah. Artinya, rahmat tersebut itu diberikan langsung dari pangkuan Tuhan sendiri, sebagai penghormatan.
Seperti anda yang berprestasi dan dianugerahi piagam penghargaan dari presiden dan diberikan oleh presiden sendiri langsung kepada anda. Itulah makna “min ‘indina”. Makanya, hanya khusus untuk hamba terkasih saja.
Sementara tesis “wa dzikra li al-‘abidin”, bahwa hal demikian sebagai sentuhan buat hamba-hamba yang penuh dedikasi kepada Tuhan mengisyaratkan, bahwa anugerah rahmat seperti dimiliki Nabi Ayub A.S. tadi tidaklah hanya dia, melainkan siapa saja yang seshalih dia juga bisa mendapatkan.
Abid adalah hamba, adalah pengabdi. Dia seperti budak yang mesti patuh kepada majikan dan tidak pernah membantah. Pekerjaan menyenangkan atau tidak, tetap saja dilaksanakan.
Berat atau ringan sama saja. Bahkan, pekerja yang bekerja berat pasti mengerti upahnya juga gede. Lagian, bagi budak, percuma menggerutu, toh pasti dikerjakan.
Singkat kisah diungkap pada ayat nomor 84, bakan Tuhan berkenan mengabulkan permohonan Nabi Ayub A.S. totalitas, baik yang diminta maupun yang tidak diminta. Pokoknya bagus bagi Ayub, Tuhan memberikan. Tidak hanya sembuh, keluarga dan semua kekayaannya kembali lagi, begitu juga simpati masyarakat.
Dan orang yang berjuluk abid, “Li al-abidin” itu ada pada diri sahabat mulia yang diganjar sakit parah dan hanya bisa berbaring di tempat tidur hingga tiga puluh tahun lamanya. Dialah Imran ibn Hashin R.A.. Semua teman dan orang-orang dekat yang nyambangi meneteskan air mata, karena iba dan kasihan.
Malahan tidak sedikit kawan yang menegur: “Ente itu hamba Allah yang shalih dan doa ente didengar. Terbukti, setiap kali ada orang yang datang meminta doa kesembuhan, ente langsung mendoakan dan nyatanya sembuh. Kenapa tidak meminta sembuh untuk diri sendiri, aneh ente ini”.
Imran ibn Hashin terseyum dan berucap lirih seolah terpkasa, sehingga terbaca kalau dia sesungguhnya enggan mengatakan. Akan tetapi demi tidak membuat prasangka buruk, lalu berkenan meski berat.
Ia berkata, "Bahwa, setiap hari malaikat menjenguk saya dan berucap salam. Saya menjawab dan hati ini sungguh sangat senang dengan keadaan spesial tersebut. Tak pernah aku merasakan kegembiraan seperti itu. Saya sangat takut, jika saya sembuh, lalu kawanku itu tidak mau lagi mengungjungi aku".
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




