Dr. H. Romadlon, MM. Foto: istimewa
Oleh: Dr. H. Romadlon, MM*
KEDIRI, BANGSAONLINE.com - KH. Muhammad Yusuf Hasyim - akrab disapa Pak Ud - adalah sosok ulama sekaligus pejuang yang memiliki kontribusi besar dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kiprahnya tidak hanya dalam bidang pendidikan, tetapi juga perjuangan fisik bersama Laskar Hizbullah, perannya dalam penumpasan G30S/PKI di Madiun dan Blitar, serta kepemimpinannya di Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dalam menjaga stabilitas nasional.
BACA JUGA:
- Halal Bihalal Alumni Pesantren Tebuireng, Menhaj Gus Irfan: Menteri Tak Boleh Terima Amplop
- Forum Muktamar Tebuireng 2025: Turats Nabawi Desak Pemerintah Tinjau Ulang Hilirisasi SDA
- Inilah di Balik Layar Silaturahim Mustasyar di Pesantren Tebuireng
- Cari Solusi, Mustasyar PBNU Bakal Silaturahim dengan Rais Aam di Pesantren Tebuireng Sabtu
Sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangannya, Seminar Nasional untuk mengusulkan KH. Muhammad Yusuf Hasyim sebagai Pahlawan Nasional akan diselenggarakan pada 16 Maret 2025 di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Acara ini diinisiasi oleh Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim dan akan dihadiri oleh berbagai tokoh, termasuk perwakilan keluarga KH. Yusuf Hasyim, akademisi, serta pejabat pemerintah seperti Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur.
Dukungan luas terhadap pengusulan ini juga tercermin dari seminar sebelumnya di Pesantren Tebuireng pada 3 Februari 2025 serta rekomendasi resmi dari Gubernur Jawa Timur pada 4 Maret 2025. Dengan latar belakang perjuangan dan kontribusinya yang luar biasa, KH. Muhammad Yusuf Hasyim sangat layak mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.
Banyak alasan yang dapat dikemukakan. Karena Pak Ud adalah termasuk Santri di Garda Terdepan dalam perjuangan melawan Belanda.
Ketika membahas tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama para pahlawan nasional seperti Soekarno, Hatta, dan Jenderal Soedirman selalu disebut. Namun, di balik perlawanan bersenjata, ada peran besar santri dan ulama yang sering terlupakan dalam catatan sejarah. Salah satu tokoh yang patut mendapat perhatian lebih adalah KH. Muhammad Yusuf Hasyim, putra bungsu pendiri Nahdlatul Ulama, KHM Hasyim Asy’ari.
Sebagai seorang santri dan pemimpin militer, KH. Yusuf Hasyim tidak hanya berperan di medan perang, tetapi juga dalam menjaga ideologi bangsa. Kisah perjuangannya bersama Kompi VI Batalyon 39/Condromowo di Dusun Nglaban, Jombang, adalah bukti nyata bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga benteng pertahanan negara.
Selain itu, KHM Yusuf Hasyim termasuk sosok pembela Negara yang berasal dari kalangan Pesantren. Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948, Yogyakarta sebagai ibu kota sementara Republik Indonesia jatuh ke tangan mereka. Serangan ini berlanjut ke berbagai daerah, termasuk Jombang. Pada 29 Desember 1948, pasukan Belanda di bawah pimpinan Charles Olke van der Plass menduduki Jombang dan menargetkan Pesantren Tebuireng sebagai basis perlawanan rakyat.
KH. Yusuf Hasyim, yang saat itu memimpin pasukan santri, berusaha mempertahankan pesantren. Namun, karena kekuatan yang tidak seimbang, ia dan pasukannya terpaksa mundur ke Dusun Nglaban.
Di Nglaban, KHM. Yusuf Hasyim dan pasukannya menghadapi serangan mendadak dari Belanda. Dengan persenjataan yang lebih lengkap, pasukan Van der Plass berhasil menimbulkan banyak korban. Salah satu santri yang gugur adalah Dawam, yang tertembak di dada.
Dalam pertempuran ini, KHM. Yusuf Hasyim sendiri terluka akibat terkena serpihan peluru, tetapi berhasil diselamatkan oleh warga setempat. Setelah pertempuran sengit, pasukan santri mundur ke Sugihwaras dan kemudian bergabung dengan pasukan di Desa Ngrimbi, Jombang, melanjutkan strategi perang gerilya untuk menghindari kepungan musuh.
Selain berjuang bersama santri, KH. Yusuf Hasyim juga menjalin kerja sama erat dengan kelompok nasionalis. Salah satu bukti nyata adalah keterlibatannya dalam membantu Batalyon 42/Diponegoro yang dipimpin oleh Mayor Mansur Solichy. Setelah mengalami kekalahan di Pertempuran Pacet, Mojokerto, batalyon ini tercerai-berai dan mencari perlindungan ke berbagai daerah, termasuk Nglaban.
KH. Yusuf Hasyim dengan sigap membantu konsolidasi pasukan dan memastikan mereka dapat kembali ke garis depan untuk bertempur melawan Belanda. Ini menunjukkan bahwa perjuangan santri tidak hanya terbatas dalam lingkup pesantren, tetapi juga berkontribusi dalam perlawanan nasional.
Alasan lain, bahwa KHM. Yusuf Hasyim berperan dalam Penumpasan G30S/PKI. KH. Muhammad Yusuf Hasyim adalah sosok ulama yang tegas dalam menentang ideologi komunisme. Tragedi G30S/PKI tahun 1965 menjadi salah satu peristiwa di mana beliau berperan besar dalam menyelamatkan bangsa dari ancaman komunisme yang bertentangan dengan Pancasila.
Pasca-G30S, Madiun dan Blitar menjadi basis persembunyian serta reorganisasi simpatisan komunis. Sebagai tokoh NU dan pemimpin pesantren, KH. Yusuf Hasyim mengonsolidasikan kekuatan santri dan masyarakat pesantren untuk menghadapi ancaman tersebut.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




