Yang Ilahi dan Yang Insani di Jalan Kramat

Yang Ilahi dan Yang Insani di Jalan Kramat Aguk Irawan MN. Foto: Instgram agukirawanmn.

Lalu ada almarhum Kiai Hasyim Muzadi. Sosok yang fasih beretorika, tapi kata-katanya berisi substansi, bukan sekadar gema kosong. Ia bisa menjadi politikus ulung, tapi keulamaan-nya tak pernah luntur. Dalam setiap perbincangan politik, selalu ada sisipan nasihat tasawuf, selalu ada pengingat akan akhirat.

Ketegasan sikapnya dalam menghadapi ancaman terhadap keutuhan bangsa, misalnya, mengingatkan pada semangat Resolusi Jihad Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari. Tegas, tapi dengan kelembutan seorang bapak yang mengkhawatirkan anak-anaknya kebingungan.

Tentu saja ada Almarhum Gus Dur. Ia adalah anomali yang dirindukan. Seorang ulama yang juga seniman, pemikir, dan pembela kaum minoritas. Ia mentertawakan kekuasaan dan tak pernah sudi diikat oleh birokrasi kaku organisasi. Baginya, NU adalah jamaah, bukan sekadar jam'iyah. Ia mengajar kita bahwa menjadi ulama berarti berani mengambil risiko demi kemanusiaan, bahkan jika itu berarti harus berselisih dengan arus utama.

Almarhum keempatnya adalah sedikit saja dari contoh nyata tokoh nadliyin yang amat berlimpah dari periode ke periode, dengan keteladanan yang “syamil”, bahwa ulama adalah “penyambung wahyu” yang efektif. Mereka menjembatani yang sakral dengan yang profan, yang ideal dengan yang aktual. Mereka menunjukkan bahwa alim tidak berarti kaku, dan tegas tidak berarti kasar.

Kini, di tengah riuh rendah dinamika di Jalan Keramat, kerinduan itu muncul kembali. Kerinduan akan ulama yang tak hanya pandai mengutip kitab kuning, tapi juga pandai membaca kitab kehidupan masyarakatnya. Yang kehadirannya meredakan, bukan memanaskan.

Kepada mereka, panutan kita, yang sedang berdinamika lumayan ekstrim, mungkin perlu sesekali menepi. Membaca kembali lembar-lembar sejarah para pendahulu. Merenungkan kembali makna “penyambung wahyu”. Apakah wahyu yang disambungkan itu adalah ajaran tentang kekuasaan, atau ajaran tentang pengabdian? Tentang berebut pengaruh, atau berebut keberkahan?

Para kiai yang terhormat dan bersahaja di Jalan Keramat, --Maaf, barangkali perlu sejenak membaca kembali lembaran sejarah para pendahulu mereka. Di sana, mereka akan menemukan esensi sejati menjadi “pewaris nabi”: bukan dengan saling sikut demi posisi, tapi dengan meneladani keikhlasan dan keluasan pandangan. Tanpa itu, riwayat keteladanan ulama di NU akan terputus, menyisakan hanya gema kosong dari sebuah organisasi besar.

Kita hari ini darurat butuh kearifan Kiai Ilyas Ruhiyat dan Mbah Sahal, kita butuh ketegasan dan kelenturan Gus Dur dan Kiai Hasyim. Bukan untuk mengulang sejarah, tapi untuk belajar bahwa keulamaan sejati tak pernah lekang oleh hiruk-pikuk zaman.

Suluk keulamaan, apalagi yang ada di Pengurus Besar, semoga bisa tetap berdiri tegak, dan sesekali di pinggir, menepi dan mengingatkan kita pada yang hakiki. Sebab, pada akhirnya, yang tersisa bukanlah siapa yang menang dalam perebutan kursi dan posisi, tapi siapa yang warisannya terus mengalirkan ketenangan di hati umat. Itulah warisan wahyu yang sesungguhnya. Wallahu'alam bishawab.


*Nahdliyin Biasa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO