Suasana salah satu pasar hewan di Ngawi.
NGAWI, BANGSAONLINE.com – Ancaman penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali menghantui para peternak di Kabupaten Ngawi. Memasuki awal tahun 2026, Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) Kabupaten Ngawi melaporkan sedikitnya 23 kasus PMK telah menyerang ternak sapi milik warga.
Sebaran kasus ini terdeteksi di sembilan kecamatan, meliputi Karanganyar, Mantingan, Gerih, Kasreman, Sine, Padas, Widodaren, Pangkur, dan Ngrambe. Kecamatan Karanganyar tercatat sebagai titik awal munculnya kasus tahun ini, yang disinyalir karena posisinya yang berbatasan langsung dengan wilayah Jawa Tengah.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPP Kabupaten Ngawi, drh. Tony Wibowo, mengungkapkan bahwa faktor mobilitas ternak dan cuaca menjadi penyebab utama kembalinya virus ini.
“Pada awal tahun 2026 ini tercatat ada 23 ekor sapi milik warga yang terjangkit PMK. Sebagian besar merupakan ternak baru, sehingga kemungkinan besar belum mendapatkan vaksin,” jelas Tony.
Ia menambahkan bahwa kondisi cuaca ekstrem serta tingkat kelembapan yang tinggi saat ini sangat mendukung percepatan penyebaran virus di lingkungan kandang. Ternak yang terjangkit rata-rata menunjukkan gejala klinis yang serupa, yakni adanya luka pada area mulut dan kuku.
Merespons keresahan peternak, DPP Kabupaten Ngawi segera mengerahkan petugas kesehatan hewan ke lokasi-lokasi terdampak. Langkah medis mulai dari pemeriksaan intensif, pemberian obat-obatan, hingga percepatan vaksinasi terus dilakukan guna memutus rantai penularan.
Selain penanganan medis, peran aktif pemilik ternak menjadi kunci utama dalam pengendalian wabah ini. Peternak diminta memperketat biosekuriti dan menjaga kebersihan sanitasi kandang secara berkala.
“Partisipasi aktif peternak sangat penting untuk menekan penyebaran PMK. Dengan laporan cepat dan penanganan tepat, kami berharap kasus ini bisa segera dikendalikan,” pungkas Tony.
Hingga saat ini, pihak dinas terus memantau pintu masuk lalu lintas ternak, terutama di wilayah perbatasan, guna mencegah masuknya hewan dari luar daerah yang belum terjamin status kesehatannya.






