Proses pembuatan bedug di Desa Jiwut Kabupaten Blitar
BLITAR,BANGSAONLINE.com - Perajin bedug asal Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, Mujiono (44) kebanjiran pesanan menjelang dan selama Ramadan 1447 Hijriah.
Di bengkel sederhananya, aroma kayu yang baru diserut terasa kuat. Sejumlah rangka bedug berukuran besar tampak berjajar, menunggu tahap akhir penyelesaian sebelum dikirim ke masjid dan musala pemesan. Mujiono, yang akrab disapa Bajai, tampak telaten menyempurnakan satu bedug berdiameter 1,5 meter.
“Ramadan tahun ini sudah sekitar sepuluh pesanan yang masuk,” tuturnya, tanpa menghentikan pekerjaan.
Sehari-hari, Bajai dikenal sebagai perajin kendang Jawa. Namun setiap memasuki Ramadan, ia mengalihkan fokus memproduksi bedug karena permintaan meningkat signifikan. Pesanan datang dari berbagai daerah, terutama Blitar dan Tulungagung.
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, ia telah menyiapkan rangka bedug setengah jadi sejak beberapa bulan sebelumnya.
Dengan cara itu, saat pesanan datang, ia hanya perlu menyelesaikan tahap akhir, mulai dari pembentukan detail, penghalusan, hingga proses pelamiran untuk menutup sambungan kayu agar lebih rapi dan kuat.
Bajai memilih bahan baku kayu secara selektif, di antaranya mahoni, nangka, dan trembesi. Setiap jenis kayu memiliki karakter serat dan tingkat ketahanan berbeda yang berpengaruh terhadap kualitas suara serta daya tahan bedug.
Harga satu set bedug bervariasi, tergantung ukuran. Untuk ukuran kecil, dibanderol mulai Rp 2,5 juta, sedangkan ukuran besar bisa mencapai Rp 15 juta. Diameter 55 hingga 70 sentimeter menjadi yang paling diminati karena dinilai sesuai untuk musala.
“Kalau yang ini untuk masjid, diameternya satu meter dengan panjang 1,2 meter,” katanya.
Sebagian besar pesanan datang dari wilayah Blitar dan Tulungagung. Di luar Ramadan, bengkel Bajai kembali lengang. Permintaan bedug menurun drastis, menyisakan produksi kendang sebagai tumpuan utama.
Namun setiap Ramadan, bengkel kecil itu kembali hidup. Dari ruangan sederhana itulah, bedug-bedug lahir yang siap ditabuh mengiringi azan magrib, membangunkan sahur, dan menjadi penanda syiar Islam di kampung-kampung.
Bagi Bajai, setiap dentuman bedug bukan sekadar bunyi. Di dalamnya ada kerja keras, ketelatenan, dan harapan yang disematkan sejak serpihan kayu pertama kali dipahat.(tri/van)














