Hari Air Sedunia, Gubernur Khofifah Tekankan Akses Air Bersih dan Kesetaraan Gender

Hari Air Sedunia, Gubernur Khofifah Tekankan Akses Air Bersih dan Kesetaraan Gender

SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan.

Pernyataan tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Air Sedunia yang diperingati setiap 22 Maret.

Khofifah menyebut akses terhadap air bersih tidak hanya menjadi kebutuhan dasar.

Akses air bersih juga berkaitan erat dengan upaya mewujudkan kesetaraan gender.

Dalam berbagai kondisi, perempuan dan anak perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak ketika akses air terbatas.

“Hari Air Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran bahwa air bersih adalah hak asasi manusia. Ketika akses air tersedia secara adil, maka kesempatan untuk hidup sehat, produktif, dan setara juga akan semakin terbuka, khususnya bagi perempuan,” ujar Khofifah.

Pernyataan tersebut sejalan dengan tema global tahun ini, yakni “Water and Gender - Where Water Flows, Equality Grows”.

Khofifah menegaskan tantangan krisis air secara global masih sangat besar.

Saat ini sekitar 2,2 miliar penduduk dunia hidup di wilayah yang mengalami kekurangan air. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 3,6 miliar pada 2025.

“Krisis air tidak hanya berdampak pada ketersediaan air minum, tetapi juga berpengaruh terhadap sektor pangan. Produksi pangan dapat menurun, harga pangan meningkat, hingga memicu kerawanan pangan dan kemiskinan, terutama bagi masyarakat rentan,” tegasnya.

Ia menilai isu air dan gender merupakan persoalan global yang saling berkaitan.

Air bersih, sanitasi, dan higiene (WASH) menjadi fondasi penting dalam mendorong kesetaraan.

Dampak krisis air tidak dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok masyarakat.

Khofifah menyampaikan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNESCO terus mendorong pengelolaan air berkelanjutan.

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai program berbasis sains dan solusi praktis.

Program tersebut di antaranya Intergovernmental Hydrological Programme (IHP) dan World Water Assessment Programme (WWAP).

“Upaya ini penting untuk memastikan keberlanjutan sumber daya air, termasuk dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, pengelolaan air tanah, serta kerja sama lintas wilayah,” tuturnya.

Pada peringatan tahun ini, Khofifah juga menekankan pentingnya peran perempuan dan anak perempuan dalam pengelolaan air.

Menurutnya, pendekatan berbasis hak harus mampu memperkuat peran dan kepemimpinan perempuan dalam pengambilan keputusan.

“Ketika perempuan memiliki akses dan dilibatkan secara setara, maka layanan air akan menjadi lebih inklusif, efektif, dan berkelanjutan. Di sinilah air menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih sehat, sejahtera, dan setara,” ungkapnya. (dev/van)