Khariri Makmun. Foto: dok. pribadi
NU membesar justru karena kedekatannya dengan persoalan rakyat kecil—pendidikan, kemiskinan, pertanian, kesehatan, hingga perlindungan tradisi keagamaan. Bila pusat organisasi terlalu sibuk dengan konflik kekuasaan, maka energi pengabdian bisa menguap.
Karena itu, Muktamar mendatang tidak boleh direduksi menjadi sekadar kontestasi kursi ketua umum. Forum lima tahunan ini harus menjadi momentum koreksi total terhadap arah organisasi di abad keduanya.
Pertama, NU membutuhkan rekonsiliasi internal. Tradisi musyawarah dan tabayun harus dikedepankan. Perbedaan wajar, tetapi perang narasi terbuka hanya akan merusak martabat jam’iyah. Para kiai sepuh dan pengasuh pesantren mesti tampil sebagai penengah.
Kedua, penegasan batas politik praktis. NU perlu menjaga jarak sehat dengan semua partai agar tetap independen. Meski begitu, relasi dengan PKB memang punya dimensi khusus. Secara historis, PKB lahir dari aspirasi politik warga Nahdliyin setelah reformasi. Ikatan sejarah itu tak bisa dipungkiri.
Namun kedekatan historis tidak boleh berubah menjadi ketergantungan. Jika PKB ingin tetap menjadi kanal politik warga NU, partai itu harus benar-benar menyerap dan memperjuangkan aspirasi kaum Nahdliyin, bukan sekadar memakai simbol-simbol NU saat pemilu.
Ketiga, pembenahan tata kelola ekonomi organisasi. Jika NU masuk ke wilayah bisnis atau pengelolaan sumber daya alam, maka standar transparansi harus jauh lebih tinggi. Organisasi ulama tak boleh dikelola dengan logika kongsi elite.
Keempat, regenerasi kepemimpinan. NU membutuhkan figur yang paham tradisi pesantren, tetapi juga mengerti ekonomi digital, geopolitik, teknologi, dan perubahan generasi muda.
Prospek NU sejatinya masih sangat besar. Basis massanya luas, jaringan pesantrennya kokoh, kader intelektualnya banyak, dan legitimasi sejarahnya kuat. Sedikit organisasi Islam di dunia memiliki kombinasi modal sebesar ini.
Masalahnya sederhana: apakah NU mau kembali menjadi kekuatan pelayanan umat, atau terus tersedot dalam orbit konflik elite?
Muktamar mendatang akan menjawab pertanyaan itu. Jika yang lahir adalah kepemimpinan pemersatu, bersih, dan visioner, NU bisa menjadikan krisis ini sebagai titik balik kebangkitan baru. Namun jika muktamar hanya menjadi arena transaksi politik internal, NU berisiko kehilangan momentum sejarahnya.
NU terlalu besar untuk runtuh karena konflik sesaat. Tapi NU juga terlalu penting untuk dibiarkan tersandera pertikaian tanpa akhir.[]
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




