NU Seperti Kapal Induk AS di Selat Hormuz

Begitu pula NU. Sebagai organisasi besar dengan sejarah panjang dan basis massa luas, NU tampak kokoh dari luar. Namun bila elite internal terus terjebak konflik, salah mengelola arah, dan abai terhadap keresahan warga, maka kekuatan besar itu justru rentan diguncang dari dalam. Dalam situasi seperti ini, kebesaran saja tidak cukup; yang dibutuhkan adalah kehati-hatian, disiplin komando, dan kemampuan membaca ancaman secara cermat.

Konflik tentu bukan barang baru dalam sejarah NU. Organisasi ini pernah melewati benturan gagasan yang keras: soal kembali ke khittah 1926, posisi terhadap negara, hubungan dengan kekuasaan, hingga perdebatan seputar demokrasi pascareformasi. Namun konflik masa lalu umumnya bertumpu pada ide, orientasi perjuangan, dan arah kebangsaan.

Kini wataknya berubah. Publik melihat pertikaian lebih banyak berkisar pada akses kekuasaan, pengaruh politik, perebutan sumber daya ekonomi, dan distribusi manfaat. Dalam konteks inilah keresahan muncul. Sebab ketika organisasi ulama lebih sering diasosiasikan dengan jabatan dan konsesi ketimbang dakwah dan pengabdian, maka yang pertama terkikis adalah kepercayaan publik.

Padahal modal utama NU bukan uang, bukan kedekatan dengan penguasa, dan bukan pula jejaring bisnis. Kekuatan terbesar NU selama ini adalah trust sosial: keyakinan masyarakat bahwa organisasi ini hadir untuk umat, bukan untuk elite.