Gus Bahar, Pesantren Salafiyah Seblak.
Oleh: Gus Bahar, Pesantren Salafiyah Seblak
Akhir-akhir ini kita disuguhkan pemandangan yang ironis. Mereka yang seharusnya menjadi benteng moral dan rujukan kebenaran justru kerap tampil dengan wajah yang berbeda. Ilmu yang semestinya menjadi cahaya petunjuk, kini sering digunakan sebagai perhiasan agar terlihat menawan di hadapan publik. Padahal, para alim ulama adalah pewaris para nabi.
Mereka menggawangi dan menguasai ilmu agar perkara demi perkara bisa terurai dengan solusi yang jelas. Namun, ketika ilmu telah menjadi komoditas dan ayat-ayat suci dijadikan lipstik agar terlihat genit di hadapan khalayak, maka di situlah kepincangan mulai terasa.
Menghormati para ulama adalah keniscayaan. Mereka telah mencurahkan seluruh hidupnya untuk memahami agama, menggali hikmah, dan memberikan pencerahan kepada umat. Wajar jika masyarakat memberikan sesuatu sebagai bentuk penghormatan dan dukungan.
Amplopan, uang, bahkan kendaraan bermotor atau rumah, semua itu adalah wujud kasih sayang agar para ahli ilmu bisa istiqamah tanpa terbebani oleh persoalan hidup sehari-hari. Itu semua wajar dan bahkan terpuji. Namun menjadi tidak wajar ketika fenomena itu berubah menjadi transaksi terselubung. Ilmu yang suci mulai dikotori oleh kepentingan duniawi.
Lebih parah lagi, mereka yang baru setengah belajar sudah berani berdiri paling lantang, menghakimi, dan menyalahkan semua pihak yang tidak sejalan dengan dirinya. Seolah-olah kebenaran hanya milik satu kelompok, satu pemahaman, satu suara. Lalu di mana letak kerendahan hati yang diajarkan oleh para pendahulu kita?
Mari kita tengok sejarah. Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah dari Dinasti Umayyah yang dikenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana, beliau tidak pernah menghakimi orang lain hanya karena perbedaan pandangan. Beliau justru membuka majelis-majelis ilmu dan duduk bersama para ulama untuk saling belajar.
Ketika rakyatnya mengeluh tentang harga gandum yang naik, beliau tidak mengecam atau menyalahkan siapapun, tetapi beliau duduk bersama para ahlinya, mendiskusikan solusi, dan mengambil kebijakan dengan hati yang bersih.
Hal serupa terjadi di masa keemasan Dinasti Abbasiyah di Baghdad. Para khalifah seperti Harun al-Rasyid dan al-Ma'mun sangat menghormati para ulama dan cendekiawan. Baitul Hikmah menjadi pusat peradaban yang tidak hanya mengkaji agama tetapi juga ilmu pengetahuan.
Mereka memahami bahwa mengelola negara bukan sekadar soal kekuasaan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan rakyat. Mereka tidak menggunakan agama sebagai tameng untuk melegitimasi kesalahan, tetapi justru agama menjadi landasan untuk memperbaiki diri dan masyarakat.
Yang lebih menarik adalah bagaimana para ulama di masa itu, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal, mereka berani menyampaikan kebenaran kepada penguasa tanpa takut kehilangan jabatan atau harta.
Mereka tidak menjadi "lipstik" bagi kekuasaan. Mereka berdiri di atas kebenaran meskipun pahit. Itulah yang hilang dari kita hari ini: keberanian untuk menjadi diri sendiri di hadapan kebenaran, bukan menjadi bayangan dari apa yang diinginkan oleh penguasa atau mayoritas.
Banyak orang berkata bahwa memimpin itu sulit. Memimpin organisasi, perusahaan, atau bahkan negara adalah pekerjaan berat. Namun sebenarnya, yang paling sulit adalah memimpin diri sendiri. Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib, pernah berkata, "Barang siapa yang mengenali dirinya, maka ia akan mengenali Tuhannya." Ini menegaskan bahwa pengenalan diri adalah pintu menuju pengenalan yang lebih tinggi.
Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah, dikenal dengan kesederhanaannya. Ketika ia diangkat menjadi khalifah, ia berkata, "Aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian, padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, tolonglah aku. Jika aku berbuat salah, luruskanlah aku."
Perkataan ini menunjukkan betapa beliau tidak terjebak dalam kesombongan kekuasaan. Beliau justru membuka ruang untuk dikoreksi. Begitu pula dengan Umar bin Khattab yang terkenal tegas.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




