Gus Bahar, Pesantren Salafiyah Seblak.
Namun di balik ketegasannya, ada kerendahan hati yang luar biasa. Suatu malam, ketika beliau berkeliling memeriksa keadaan rakyatnya, beliau mendengar seorang ibu berkata kepada putrinya, "Jangan kau campur susu dengan air, karena Khalifah Umar melarang hal itu." Si putri menjawab, "Apakah Umar bisa melihat kita saat ini?" Sang ibu menjawab, "Jika Umar tidak melihat, maka Rabb-nya Umar melihat."
Mendengar itu, Umar menangis dan kembali ke rumah, lalu menulis surat kepada gubernur-gubernurnya untuk tidak membebani rakyat. Inilah pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan kesempatan untuk mencari muka.
Saat ini, kita sering mendengar keluhan tentang ekonomi yang terpuruk. Harga-harga melambung, BBM mahal, dan di mana-mana terjadi demonstrasi. Namun jika kita melihat dengan kacamata keimanan, kekhawatiran itu perlahan luruh.
Karena keyakinan kepada Allah adalah kepastian yang tidak bisa diganggu gugat. Jika pengelolaan iman kita baik, maka kita akan melihat perkara bukan dari gosip atau kabar burung yang serba tidak jelas, tetapi dengan mata hati yang jernih.
Salah satu penyebab ekonomi suatu negara terpuruk adalah ketika negara lebih menggantungkan pendapatan dari pajak dan pinjaman, bukan dari apa yang telah Allah karuniakan. Negeri ini kaya akan sumber daya alam.
Minyak, gas, batu bara, emas, hasil laut, dan kekayaan hutan melimpah. Namun ironisnya, kita masih sering melihat pengelolaan yang tidak berpihak pada rakyat. Sebuah negara bisa maju jika mengelola dengan baik apa yang telah Allah turunkan, tanpa harus membebani rakyat dengan berbagai pungutan yang memberatkan.
Di masa Rasulullah, kewajiban individu untuk mengeluarkan uang hanya perkara zakat. Itu terstruktur dan jelas. Sedangkan sedekah dan bentuk-bentuk infak lainnya tergantung dari kemampuan dan keikhlasan pribadi. Inilah yang kemudian melahirkan Baitul Mal sebagai lembaga pengelola keuangan negara yang bertugas mendistribusikan kekayaan secara adil kepada yang berhak.
Pola ini diteruskan oleh Dinasti Umayyah di Damaskus, Abbasiyah di Baghdad, Usmani di Istanbul, dan Fatimiyah di Mesir. Mereka tidak pernah terpikir untuk memberatkan rakyatnya dengan pajak yang tinggi.
Justru sebaliknya, mereka membangun infrastruktur, memakmurkan perdagangan, dan menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Itulah mengapa peradaban Islam pernah mencapai puncak kejayaannya.
Namun, seiring waktu, banyak pemimpin yang melupakan pola ini. Mereka lebih memilih memungut pajak dan menarik pinjaman dari lembaga keuangan internasional dengan bunga yang mencekik. Ini bukanlah solusi, ini adalah bumerang yang akan meledak di kemudian hari.
Kita bukan berarti anti-modernisasi. Sebaliknya, selama modernisasi membawa kebaikan, mari kita ambil. Namun jika di dalamnya ada keburukan, kita harus berani membuangnya. Ini bukan agenda untuk dipertahankan hanya karena takut kehilangan pendapatan, jaringan, atau kekuasaan. Keutuhan sebuah institusi bernama negara harus tersusun dengan baik.
Bersatu karena Allah, bagi yang nasionalis karena Pancasila atau kecintaan terhadap tanah air, tanah kelahiran. Kemudian dikelola dengan kebaikan dan kepercayaan yang telah bersatu tadi, sehingga muncul terjaganya amanah oleh para pemimpinnya.
Mengembalikan perkara kepada para ulama adalah keniscayaan. Namun kita perlu memastikan bahwa mereka yang kita jadikan rujukan adalah mereka yang benar-benar berilmu, bukan sekadar "bersolek" dengan ayat dan hadis. Mereka yang berani mengoreksi penguasa, bukan yang membungkuk di hadapan kekuasaan. Mereka yang mengajarkan kerendahan hati, bukan yang menyombongkan diri dengan gelar.
Yang terpenting adalah kemampuan kita menguasai diri sendiri. Karena perkara badan ini seperti mata melihat bibir: ada, tetapi hanya terlihat di cermin. Tidak dapat dilihat secara langsung oleh mata, namun bisa dirasakan. Begitu pula dengan keimanan. Ia tidak terlihat, tetapi dampaknya terasa dalam setiap langkah kehidupan.
Di sinilah ilmu Allah mewujudkan dirinya. Ia tidak membutuhkan pengakuan manusia. Ia hadir dalam ketenangan jiwa, dalam keteguhan hati, dan dalam kebijaksanaan mengambil keputusan. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang diberikan kemampuan untuk menguasai diri, sehingga kita mampu menguasai banyak hal lain dengan penuh amanah dan tanggung jawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




