Tafsir Al-Nahl 69: Minum Madu, tak Sembuh, Nabi Digugat

Tafsir Al-Nahl 69: Minum Madu, tak Sembuh, Nabi Digugat

Maksudnya, nabi itu menangkap gelagat tak baik dari sahabat terebut, seolah hendak mengatakan bahwa Tuhan berbohong dengan menunjuk madu sebagai obat sebagaimana tertera pada ayat, "fih syifa' li al-nas".

Maka Nabi membentak dengan bahasa "shadaq Allah", Allah sudah benar dan tidak pernah berbohong. Justru perut saudaramu yang dusta (bermasalah), "wa kadzab bathn akhik".

Setelah dimantapkan, bahwa resep Tuhan itu sudah benar dan yang bermasalah adalah perut, sahabat itu diam dan menyadari. Kemudian Nabi mengulang resep semula untuk ketiga kalinya, "isqih 'asala", ayo beri madu lagi.

Sahabat itu segera pulang dan memberi minuman madu kepada saudaranya untuk ketiga kalinya. Hasilnya? Sembuh dengan izin Allah.

Syarhul Hadis memberi komentar, bahwa disinyalir minuman madu pertama telah bekerja sebagai kontra bakteri, melawan dan menyerang sehingga mules dan mencret makin menjadi-jadi, ibarat pertarungan hebat sedang dimulai. Sedangkan madu kedua berfungsi sebagai pukulan telak yang melumpuhkan semua bakteri dan membuangnya keluar, maka mencret tetap berlangsung. Hal itu mengingat beratnya penyakit yang diderita oleh perut lelaki tersebut, sehingga butuh tahapan dan tidak bisa sekaligus. Baru asupan madu yang ketiga bekerja sebagai obat yang menuntaskan, sehingga perut mampet dan sembuh total.

Pemahaman kedua soal al-Qur'an dan madu sebagai obat, tidak dimaknai secara fisikly seperti terpaparkan di atas, melainkan secara filosufi, sebagai bahasa simbolis yang punya nuansa tersendiri. Al-Qur'an difahami sebagai simpel dari obat secara psikis, termasuk doa, dzikir, hizib, mantra, terapi kejiwaan, penguatan mental, konsultasi dan lain-lain. Inilah pengobatan mistik yang langsung mengunduh rahmat Tuhan.

Sedangkan Madu (al-'asal) sebagai sampel dari pengobatan secara medik yang tidak terbatas hanya madu saja, melainkan meluas pada apa saja yang secara fisis mengandung obat, baik dari flora maupun fauna. Banyak dedauan, buah-buahan, biji-bijian, bahkan racun dengan khasiat masing-masing yang lebih spesifik ketimbang madu. Sebut saja, madu adalah obat yang bersifat universal dan umum, sementara di sana masih ada banyak obat berkhasiat khusus untuk jenis penyakit khusus. Kedua pemahaman ini adalah benar dan semuanya berjalan dalam sunnah-Nya.

Justru tidaklah bijak memaknai madu ansich sebagai obat segala penyakit dengan menafikan yang lain, termasuk memaknai al-Qur'an sebagai terapi psikis satu-satunya sementara yang lain dinafikan.

Ya benar, sebagai orang beriman, al-Qur'an dan semua pesannya adalah yang nomor satu dan wajib diimani. Tapi persoalannya bukan itu, melainkan ada pada ranah pemahaman.

Sebuah jurnal di Amerika menunjukkan perbandingan penyebab jatuh sakit. Ternyata 80 persen karena gangguan jiwa, tekanan mental dan sebagainya dan hanya 20 persen yang murni karena virus, bakteri dan sebagainya.

Seorang santri di sebuah pondok pesantren sakit-sakitan, demam, perut mules, males makan sehingga absen mengaji dan juga tidak masuk sekolah. Begitu ditawari, apa pingin pulang ke rumah? Dia mengangguk dan segera ganti baju dengan wajah cerah dan bersemangat. Belum sampai rumah sudah sembuh dan semun-senyum.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO