Sifat ulul albab keempat dan kelima adalah takut kepada Allah “yakhsyaun rabbahum” dan takut terhadap perhitungan amal yang buruk, “ yakhafun su’ al-hisab”. Perbedaan sifat ini ada pada tekanan orientasinya. Takut (khasy-yah) kepada Allah sama dengan taqwa kepada Allah dengan titik tekan kepatuhan totalitas. Segala perintah Tuhan baik yang bersifat kewajiban (al-wajibat) maupun yang anjuran (al-mandubat) sebisa-bisanya dilakukan. Sedangkan segala larangan Allah, baik yang bersifat keharusan (al-mahrumat) maupun yang anjuran (al-makruhat) ditinggalkan.
Sementara sifat kelima (khawf), takut kalkulasi amalnya buruk. Untuk ini ada dua macam,: pertama, amal rutinitas dan parsial, seperti amal-amal baik pada umumnya, shalat, zakat, puasa, sedekah, nyambung sanak famili dll. Amal-amal ini bagus dan nampak sebagai amal akhirat, tapi tidak otomatis membuahkan pahala. Harus dilihat dulu dasarnya. Jika didasari dengan niat ibadah yang tulus karena Allah, maka dicatat sebagai ibadah berpahala. Kalau tidak, seperti ada unsur riya’, menarik simpati pemilih, dipuji orang, maka tidak berpahala. Mendingan amal yang kelihatannya kayak perbuatan duniawi biasa, seperti mencangkul, ke kantor, kerja di pabrik, mengais uang recehan di perempatan jalan tapi diniati ibadah mencari nafkah, lillahi ta’ala, maka menjadilah ibadah berpahala.
Kedua, takut totalitas amalnya nanti bernilai buruk, lebih banyak buruknya ketimbang amal baiknya. Nilai buruk (su’ al-hisab) inilah yang ditakuti oleh insan ulul albab. Untuk itu, pribadi ulul albab pada sifat ini selalu menata niat dalam segala gerak-geriknya. Setiap langkah mesti didasari ibadah lillahi ta’ala.
Kata “khasyiya, yakhsya, khasy-yah” lazim dipakai untuk rasa takut kepada Allah, senada dengan kata “taqwa” dan “khauf”. Khasy-yah adalah rasa takut penuh haibah dan kharisma, sehingga menimbulkan rasa merinding terus-menerus dan penuh hormat. Itulah taqwa tingkat tinggi, dengan selalu merasa diawasi Tuhan. Tidak sama dengan kata “khauf” (takut) yang biasa dipakai untuk mengekspresikan rasa takut terhadap sesuatu yang ada di hadapannya. Seperti takut singa liar yang ada di depan mata. Kalau singa pergi, maka rasa takut sirna. Untuk itu, kata khasy-yah tidak dipakai untuk takut kepada singa, namun kata “khauf” bisa dipakai untuk membahasakan takut kepada Allah. Sebab ada orang yang hanya saat sedang mood dan ingat Allah saja, maka timbul khauf. Saat-saat biasa, dia liar dan tidak ada rasa “khauf” apa-apa.
Bisakah Hapus Dosa dengan Amal Salih?
Sifat ulil albab yang kesembilan adalah: “yadra’un bi al-hasanah al-sayyi’ah”. Menghalau keburukan dengan kebajikan.
Ada dua tehnik dalam kerja sifat ini: pertama, bersifat protektif, yaitu selalu membentengi diri dengan aktif melakukan amal-amal bagus demi menghalau perbuatan buruk yang akan ada; kedua, bersifat kuratif, penanganan, penyelesaian,yakni selalu bertaubat jika telah melakukan perbuatan maksiat.
Tentu yang pertama yang terbaik. Dan resep ampuh untuk menghindar dari maksiat yang disajikan di depan mata adalah istighfar, istighfar dan istighfar secara sungguhan, lahir dan batin.
Sedangkan yang kedua memang langkah lumayan, tapi ada resiko. Dikhawatirkan Tuhan tidak menerima tobat kita karena berbagai pertimbangan, antara lain :
Pertama, kita sering banget melakukan perbuatan maksiat dan sering pula bertobat. Cuma gaya tobatnya kurang totalitas, sehingga kayak main-main dan menyepelekan. Orang yang bertobat macam begini ini, kaum sufi menamainya dengan sebutan “al-mustahzi’”, mempermainkan Tuhan. Seperti lagak orang munafik yang mengaku beriman ketika bergaul dengan orang-orang mukmin, tapi mencibir ketika lepas dan bergaul dengan teman-temannya sesama kafir.
Kedua, volume dosanya sangat besar dan kualitasnya sangat tengik sementara nilai pertobatannya biasa-biasa saja sehingga tidak mengimbangi. Ibarat utang yang berjumlah milyaran, tapi kemampuan membayarannya cuma beberpa juta saja.
Meskipun Tuhan maha pengampun, tapi kita mesti tahu diri. Kalau kucuran ampunan terlalu banyak, maka wajar bagi Tuhan mempertimbangkan pengampunan total.
Artis yang membagi-bagikan sedekah bulan ramadan kepada fakir miskin itu bagus. Tapi berapa persen yang dibagikan dibanding kekayaannya yang didapat dengan cara menjual maksiat.
Penyanyi erotis boleh berkali-kali umrah ke tanah suci dan sesekali tampil berkerudung, itu bagus, bagus sekali. Tapi tidak terbukti kalau dia sudah bertobat. Buktinya, masih goyang erotis lagi, berkoget ala pelacur lagi, buka aurat lagi di hadapan umum. Bergoyang maksiat macam itu bukanlah kerja halal menurut syariah islam.
Untuk itu, kita ditunutut menghitung-hitung amal kita sendiri sebelum dihitung Tuhan, kira-kira cukupkah sebagai modal terhindar dari neraka dan diperkenankan menikmati surga.
Seperti dilakukan oleh sayyidina Utsman ibn Affan. Suatu hari mencoba menghitung-hitung amal pribadi yang diandalkan bisa mengantarnya masuk surga. Antara lain, dia sebagai menantu nabi.
Mosok, dipilih Nabi menjadi menantunya hingga dua kali kok nggak masuk surga. Kedua, promotor penulisan mushaf al-Qur’an, mensedekahkan sebagian besar kekayaannya di jalan Allah, dan lain-lain.Kita?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




