Desak Hasto Klarifikasi, Kiai Asep Minta Polda Usut Pengunggah Foto Syur Mirip Anas

Desak Hasto Klarifikasi, Kiai Asep Minta Polda Usut Pengunggah Foto Syur Mirip Anas Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA. foto: istimewa

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Dr KH Asep Saifuddin Chalim, pengasuh dua Pondok Pesantren yaitu Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur meminta Polda Jawa Timur mengusut tuntas pihak pengunggah foto syur wanita bersama lelaki mirip Abdullah Azwar Anas, calon wakil Gubernur Jawa Timur pasangan calon Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang diusung PDIP dan PKB.

”Saya mohon aparat kepolisian Polda Jawa Timur mengusut kasus ini agar masyarakat tahu siapa sebenarnya pengunggah foto itu. Sekarang IT kan sudah canggih. Jadi saya kira aparat tidak ada kesulitan untuk mengusut dan mengungkap pelakunya,” kata Kiai Asep Saifuddin Chalim kepada bangsaonline.com, Ahad (7/1/2018).

Selain itu Kiai Asep juga minta Hasto Kristiyanto, Sekjen DPP PDIP, agar memberikan klarifikasi tentang pernyataannya yang memakai diksi “pihak sana” dalam kasus Cawagub Abdullah Azwar Anas.

”’Pihak sana’ itu siapa. Tolong Pak Hasto memberi penjelasan agar masyarakat Jawa Timur tak salah pengertian,” kata kiai yang juga Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.

”Kata-kata ‘pihak sana’ itu multi tafsir. Bisa berarti partai pengusung, partai bukan pengusung, atau bisa berarti faksi-faksi di internal partai Pak Hasto sendiri,” kata kiai berpenampilan sederhana yang memiliki 8000 santri itu.

Menurut dia, masyarakat bisa jadi salah paham sehingga mengira tim Khofifah-Emil yang melakukan praktik politik tak terpuji itu.

”Calon gubernur dan wakil gubernur kan hanya ada dua pasang yaitu Gus Ipul-Anas dan Khofifah-Emil. Kebetulan mereka sama-sama dari NU. Kalau pakai kata-kata ‘pihak sana’ saya khawatir masyarakat awam mengira yang melakukan praktik politik kotor itu Tim Bu Khofifah-Emil. Padahal kami mengharamkan praktik politik seperti itu,” kata Kiai Asep yang fasih bahasa Inggris dan Arab itu.

Karena itu Kiai Asep mendesak Hasto segera melakukan klarifikasi agar kegaduhan yang terjadi di masyarakat Jawa Timur reda. ”Saya minta pak Hasto jangan menyulut api di Jawa Timur,” katanya.

Sebelumnya, Hasto melontarkan pernyataan panas. Menurut dia, isu pengunduran Azwar Anas dimainkan oleh 'pihak sana'. Dia menyebutkan 'pihak sana' tersebut merupakan pihak yang memuja kekuasaan dan lupa tentang etika dan moral dalam berpolitik sehingga. Maka, dia menilai ada kecenderungan menghalalkan segala cara.

"Mereka yang telah kami pilih, dan punya potensi menang, tentu saja secara sengaja dan sistematis dicoba diturunkan elektabilitasnya. Isu yang sering dipakai adalah masalah moral, melalui rekayasa pelanggaran moral, isu korupsi, dan berbagai isu lainnya termasuk ujaran kebencian dan memecah belah antara calon dan parpol pengusungnya," ujar Hasto saat itu.

Kiai Asep minta Hasto tidak menggiring kasus panas pilkada DKI ke Jawa Timur. ”Tolong Pak Hasto hati-hati, jangan membuat Jawa Timur panas. 80 persen warga Jawa Timur itu warga NU. Kebetulan calon gubernur dan wakil gubernur yang sekarang berkontestasi adalah kader NU. Saya jamin dari tim Bu Khofifah tak bakalan melakukan praktik politik tak terpuji. Kami berpolitik dengan dasar akhlaqul karimah, jangan disamakan dengan entitas politik lain,” pinta Kiai Asep.

Kiai Asep menjelaskan, ada yang janggal dalam timing pengunggahan foto porno itu. ”Buktinya foto itu diunggah menjelang pendaftaran. Kalau untuk menurunkan elektabilitas, pasti diunggah menjelang coblosan. Bukan sekarang. Tapi faktanya foto itu diunggah sekarang sehingga masih ada waktu untuk mengganti cawagub. Jadi orang yang ngerti strategi politik pasti paham siapa yang bermain. Apalagi selama ini masyarakat sudah mendengar bahwa naiknya Anas banyak mengecewakan pihak tertentu yang ingin jadi cawagub,” katanya.

Karena itu ia meminta agar Hasto tidak mencari kambing hitam dengan diksi “pihak sana”.

Di sisi lain, Rais Syuriah PCNU Banyuwangi KH Ahmad Hisyam Syafaat meminta Abdullah Azwar Anas tidak mundur kalau memang tidak merasa salah. ”Untuk apa mundur kalau foto yang beredar itu palsu. Sekarang teknologi IT kan sudah canggih. Buktikan saja kalau memang foto itu palsu,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Blok Agung Banyuwangi itu malah heran kenapa Anas secepat itu mundur, jika memang tak bersalah. ”Jadi jangan bilang ini pembunuhan karakter atau apa. Tinggal buktikan saja lewat teknologi IT. Kalau mundur dari Cawagub kan masyarakat malah makin yakin bahwa foto itu benar. Dan ini berdampak pada posisinya sebagai bupati Banyuwangi,” kata kiai yang punya puluhan ribu santri itu. (tim)