Selasa, 29 September 2020 08:33

Menghina Agama Lain, Apa Manfaatnya?

Senin, 10 Agustus 2020 18:53 WIB
Editor: MMA
Menghina Agama Lain, Apa Manfaatnya?
M Mas'ud Adnan. Foto: bangsaonline.com

Oleh: M Mas'ud Adnan

Apollinaris Darmawan - seorang kakek – sangat rajin menghina dan memfitnah agama Islam dan Nabi Muhammad. Dari jejak digitalnya, Apollinaris yang non muslim itu kurang lebih 10 tahun menghina Islam dan juga tokoh-tokoh Islam secara terbuka. Kini ia diamankan polisi.

Sikap Apollinaris ini tentu bukan hanya intoleran dan radikal, lebih dari itu ia intervensi pada agama lain. Celakanya, sikap intervensi itu tidak didasari ilmu pengetahuan memadai. Tapi lebih karena sentimen antaragama atau pemeluk agama. 

Contoh, ketika Apollinaris mengatakan bahwa perintah kurban hewan tak ada dalam al-Quran. Apollinaris menuduh Nabi Muhammad meniru tradisi Yahudi. Suatu pernyataan yang sangat fatal.

Pernyataan Apollinaris ini tentu menjadi tertawaan banyak orang. Sebab perintah kurban dalam Al-Quran bertebaran. Banyak sekali. Lihat saja Surat Al-Kautsar ayat 2. Lalu Surat As-Saffat ayat 102. Juga Surat Al-Hajj ayat 37.      

Bahkan dalam al-Quran perintah kurban dijelaskan sangat lengkap sejak jaman Nabi Adam. Dalam Surat Al-Maidah ayat 27 itu al-Quran menceritakan tentang kurban Habil dan Qobil, putra Nabi Adam.    

Peristiwa ini menyadarkan kita bahwa kecenderungan saling hina antarpemeluk agama makin marak. Lebih-lebih sejak muncul “ladang pekerjaan baru” yaitu buzzer. Agama seolah tidak lagi menjadi perekat sosial yang harmonis. Tapi, justru jadi ajang perseteruan sosial, saling caci antaranak bangsa. Terutama di media sosial.

Aneh. Padahal, salah satu ajaran inti agama, terutama Islam, adalah akhlak, etika, atau budi pekerti. “Innama buitstu liutammima makarimal akhlaq (Saya diutus untuk menyempurnakan akhlak),” kata Rasulullah SAW.

Lalu apa fungsi dan manfaat agama, terutama dalam kehidupan sosial. Untuk apa kita beragama, jika dengan memeluk agama malah saling merendahkan. Apakah agama yang kita anut mengajarkan atau memerintahkan kita untuk merendahkan pemeluk agama lain?

Jika Anda menjawab "ya", berarti ajaran agama yang Anda anut jelas menyalahi kodrat kemanusiaan. Padahal ajaran agama yang benar – sekali lagi agama yang benar - niscaya menjunjung tinggi kemanusiaan. Bukankah agama itu diturunkan untuk meninggikan derajat manusia sehingga ada bedanya dengan binatang?

Bagaimana pandangan Islam? Secara tegas Islam melarang menghina agama atau pemeluk agama lain. Apapun alasannya. Larangan itu ditegaskan dalam Al-Quran Surat Al-An'am ayat 108. Yang artinya:

"Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan” (QS Al-An'am: 108).

Lalu kenapa masih ada orang yang menghina agama lain. Ada empat kemungkinan:
Pertama, karena mereka tak paham tentang ajaran agama yang mereka anut. Dan ini dialami banyak pemeluk agama. Bukan hanya Islam. Akibatnya, mereka memandang agama lain sebagai musuh yang harus dicaci dan dimusuhi.

Padahal Nabi Muhammad mengajarkan kita hidup saling menghormati. Bahkan hidup harmonis dalam perbedaan. Ini tercermin dari keteladanan Rasulullah SAW di Madinah. Rasulullah SAW hidup harmonis bersama para penganut agama Yahudi dan Nasrani.

Sikap dasar ajaran Rasulullah SAW itu oleh para ulama NU kemudian diformulasikan dalam kerangka kehidupan sosial yang moderat. Poin-poin moderasi itu: tatsamuh (toleransi, tenggangrasa atau akhlak terpuji dalam pergaulan), tawasuth (sikap tengah, tidak radikal dan tidak liberal), tawazun (keseimbangan antara posisi dalil rasionalitas (akal) dan agama (naqli), antara akal dan jiwa, terutama dalam keserasian hidup manusia) dan juga I’tidal (tegak lurus alias adil).

Karena itu Gus Dur menegaskan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin tinggi toleransinya.

Kedua, mungkin mereka paham tentang ajaran agama yang dianut , tapi - sengaja atau tidak  - melanggar ajaran agamanya sendiri. Fenomena ini juga dialami  pemeluk semua agama. Tidak hanya Islam. Bahkan kecenderungan melanggar ajaran agama yang dipeluk ini bukan hanya terjadi dalam tataran etika antarpemeluk agama, tapi juga terjadi pada pemeluk agama yang sama. Misalnya sesama pemeluk agama Islam, pemeluk agama Kristen, Hindu, Budha, dan lainnya. Munculnya sekte, kelompok atau firqah dalam satu rumpun agama adalah fakta tak terbantah. 

Ketiga, faktor emosional keagamaan tanpa diimbangi rasionalitas dalam beragama. Fenomena ini juga menimpa semua agama. Akibatnya, terjadi fanatisme buta tanpa menghiraukan akhlak dan akal sehat. Sikap intoleran sering muncul karena faktor ini. 

Karena itu dalam Islam ada ungkapan Laa dina liman laa aqla lahu (Tidak sempurna agama seseorang jika tanpa disertai akal sehat).

Keempat, karena kepentingan politik. Dalam kontek ini banyak sekali politisi berjubah agama. Bahkan menjadikan agama sebagai komoditas politik.    

Lalu apa manfaat menghina agama orang lain? Jelas tak ada. Sebaliknya, justeru merendahkan agama yang mereka (penghina) anut. Sebab, secara akal sehat kita tahu bahwa semua bentuk penghinaan adalah cermin dari budi pekerti yang rendah dan muncul dari ajaran atau pemahaman agama yang salah.

Konsekuensinya, publik yang semula bersimpati, langsung ambyar. Karena penghinaan - dipandang dari segi apapun - tak sesuai dengan akal sehat dan tatanan sosial yang normal. Karena itu saya yakin, para pemuka agama tempat Apollinaris Darmawan bernaung, pasti malu melihat sikap intoleran dan intervensi yang sangat menggelikan itu. Seperti halnya saya juga malu ketika ada orang Islam bersikap intoleran, baik terhadap sesama orang Islam maupun pada penganut agama lain.   

Meski demikian, bisa saja Apollinaris memiliki pengikut - walau cuma lingkaran kecil. Tapi budi pekerti para pengikut itu pasti sama rendahnya. Bukankah hanya orang tak waras yang bersimpati pada para penghina agama lain.

Nah, berangkat dari uraian di atas, kita perlu introspeksi secara obyektif. Sudah benarkah kita dalam memahami agama. Sudah benarkah kita dalam beragama. Jangan-jangan kita merasa menjalankan ajaran agama, tapi kita justru melanggar ajaran agama. Wallahua'lam bisshawab

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Minggu, 20 September 2020 21:35 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Banyuwangi banyak memiliki pantai cantik yang mempesona dengan keindahannya. Pantai yang bisa memikat para traveler datang di bumi sunrise of java ini.Tetapi bukan hanya pantai cantik saja yang menarik wisatawan mancan...
Kamis, 17 September 2020 20:43 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan---Sebuah video mencuat di media sosial. Viral. Isinya seorang perempuan desa. Madura. Menyanyikan lagu dangdut. Ciptaan Rhoma Irama.Penampilan perempuan itu sangat udik. Norak. Tanpa rias wajah. Bahkan video itu direkam d...
Senin, 28 September 2020 22:43 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*32. waidhrib lahum matsalan rajulayni ja’alnaa li-ahadihimaa jannatayni min a’naabin wahafafnaahumaa binakhlin waja’alnaa baynahumaa zar’aanDan berikanlah (Muhammad) kepada mereka sebuah perumpamaan, dua...
Minggu, 27 September 2020 12:00 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&l...