Minggu, 07 Maret 2021 10:01

Peringati Haul Gus Dur ke-11, Gusdurian Mojokutho Kediri Gelar Dialog Kebangsaan

Minggu, 13 Desember 2020 22:11 WIB
Editor: Yudi Arianto
Wartawan: Muji Harjita
Peringati Haul Gus Dur ke-11, Gusdurian Mojokutho Kediri Gelar Dialog Kebangsaan
Dari kiri: Anto Big (Ethan), Gus Naf'an Shalahuddin, dan Koordinator Gusdurian Mojokutho Pare, Antok Beler. foto: MUJI HARJITA/ BANGSAONLINE

KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Komunitas Gusdurian Mojokutho Pare, Kabupaten Kediri memperingati Haul ke-11 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan menggelar dialog kebangsaan, di Sanggar Lansia Kongan, Pasar Loak Pujasera, Kota Pare, Minggu (13/12) malam.

Hadir menjadi narasumber utama, Gus Naf'an Shalahuddin, dari Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

Meski Kediri diguyur hujan lebat sejak sore, namun hal itu tidak mengurangi minat anggota dan simpatisan Gusdurian Mojokutho Pare untuk hadir.

Acara mengangkat tema 'Serangkai Bunga Untuk Gus Dur" ini dibuka langsung Gus Naf'an Shalahuddin dengan membaca Alfatihah untuk Sang Guru Bangsa, Gus Dur, serta alunan sholawat.

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh lintas agama, organisasi kepemudaan, kaum akar rumput pedagang, dan warga pasar loak pujasera, serta beberapa milenial dari Blitar, Sukabumi, Yogyakarta, dan Bengkulu yang sedang belajar di Kampung Inggris, Kota Kediri.

Koordinator Gusdurian Mojokutho, Pare, Antok Beler, menjelaskan tugas dari Gusdurian adalah merawat warisan perjuangan Gus Dur untuk Indonesia.

Serta mengembangkan tradisi dialog dengan berbagai kelompok masyarakat, untuk saling memahami dan menemukan titik kesamaan, serta mengembangkan upaya-upaya ke arah ke Bhinneka Tunggal Ika.

Menurut Antok, komunitas atau jaringan Gusdurian lahir pasca wafatnya Gus Dur. Adalah putri dari Gus Gur, yaitu Alisa Wahid yang mendirikan komunitas tersebut. Setelah Gus Dur wafat, banyak kelompok yang dilemahkan seperti petani dan kelompok minoritas agama datang menghampiri keluarga Gus Dur.

"Oleh karena itu, Mbak Alisa lalu membuat Jaringan Gusdurian tahun 2010, bersama murid-murid Gus Dur dari berbagai tempat," terang Antok.

Dijelaskan oleh Antok, Jaringan Gusdurian adalah arena sinergi bagi para Gusdurian di ruang kultural dan non politik praktis. Di dalam jaringan Gusdurian tergabung individu, komunitas/forum lokal, dan organisasi yang merasa terinspirasi oleh teladan nilai, pemikiran, dan perjuangan Gus Dur. Karena bersifat jejaring kerja, maka tidak diperlukan keanggotaan formal.

Jaringan Gusdurian memfokuskan sinergi kerja non politik praktis pada dimensi-dimensi yang telah ditekuni Gus Dur, meliputi 4 dimensi besar: Islam dan Keimanan, Kultural, Negara, dan Kemanusiaan

"Nilai, pemikiran, perjuangan Gus Dur tetap hidup dan mengawal pergerakan kebangsaan Indonesia, melalui sinergi karya para pengikutnya, dilandasi 9 Nilai Gus Dur, yaitu Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Persaudaraan, Kesederhanaan, Sikap Ksatria, dan Kearifan Tradisi," beber Antok.

Ia menambahkan bahwa kegiatan Gusdurian Mojukutho, Pare, selama ini fokus pada bidang kemanusiaan (Humanity for All), salah satunya jumat berkah, berkolaborasi antar lintas komunitas, melaksanakan bedah rumah, pendampingan anak-anak dan lansia, juga terlibat penanggulangan bencana alam di berbagai daerah.

Sementara itu, Gus Naf'an Shalahuddin dalam tausiyahnya menyampaikan tentang Gus Dur sebagai Guru Bangsa yang harus diingat ajarannya, terutama oleh generasi muda.

"Gus Dur adalah multitalent. Bila ingin membahas Gus Dur tidak cukup satu bulan. Gus Dur itu seorang kiai, politisi, seniman, dan penulis. Kalau ngomong pecinta Gus Dur, sebenarnya pecinta Gus Dur itu ada di seluruh dunia. Sedangkan Gusdurian itu adalah Komunitas Pecinta Gus Dur yang didirikan oleh Alisa Wahid," kata Gus Naf'an.

"Apa yang dikatakan Gus Dur, kebanyakan terjadi di kemudian hari. Gus Dur bukan peramal, tapi Gus Dur memang mendapat ilham dari Allah SWT. Gus Dur adalah seorang Waliyullah," kata Gus Naf'an.

Menurut Gus Naf'an, Gus Dur adalah sosok yang sangat toleran. Gus Dur sudah biasa bergaul dengan teman-temannya dari lintas agama, aliran kepercayaan, budayawan, dan seniman. "Gus Dur sangat menghargai perbedaan. Gus Dur adalah sosok yang sangat pluralis," tambahnya.

Seperti diketahui, KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940, meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 lalu, pada umur 69 tahun. (uji/ian)

Dua Warga Kepulungan yang Terseret Banjir Bandang Ditemukan Tewas
Kamis, 04 Februari 2021 17:21 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Dua warga Desa Kepulungan Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, yang dilaporkan hilang akibat terseret derasnya arus banjir Rabu (3/2) kemarin, akhirnya ditemukan dalam kondisi tewas, Kamis (4/2) pagi. Korban adalah ...
Kamis, 07 Januari 2021 16:58 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Pamekasan dalam masa pandemi ini tetap bertekad memberikan wahana hiburan rekreasi sekaligus olahraga, terutama bagi anak-anak dan usia dini.Melalui kapasitas dan potensi...
Sabtu, 06 Maret 2021 07:30 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Publik heboh. Itu loh, soal dana asing Rp 100 triliun yang bakal masuk Indonesia. Lewat sovereign wealth fund (SWF). Atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI).SWF memang sedang jadi sorotan publik. Maklum, sudah banyak ...
Senin, 22 Februari 2021 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*58. Warabbuka alghafuuru dzuu alrrahmati law yu-aakhidzuhum bimaa kasabuu la’ajjala lahumu al’adzaaba bal lahum maw’idun lan yajiduu min duunihi maw-ilaanDan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang. ...
Sabtu, 06 Maret 2021 14:06 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wono...