Ketakutan, ​Jenderal Kaya Raya, Pemilik Istana Swasta itu Menghilang

Ketakutan, ​Jenderal Kaya Raya, Pemilik Istana Swasta itu Menghilang Dahlan Iskan

Diperlihatkan juga taman di halaman yang sangat luas. Juga fasilitas apa saja yang ada di rumah besar itu: gym, sauna, bar, dan ruang-ruang mewah di dalamnya.

Tulisan wartawan itu dimuat banyak media di dunia. Tergambar jelas betapa kontras antara kehidupan miskin rakyat Afghanistan dengan kemewahan rumah Dostum. Kontradiksi itulah memang yang ingin diungkap dari mengundang wartawan tersebut.

Semasa pendudukan Amerika memang muncul banyak sekali orang kaya baru di Afghanistan –meski Dostum adalah orang kaya lama. Banyak juga guru bahasa Inggris yang tiba-tiba menjadi penerjemah komandan tentara Amerika. Mereka mendapat penghasilan besar. Dan itu kurang penting. Yang lebih utama adalah: mereka mendapat kepercayaan dari Amerika. Lalu mendapat proyek besar. Terutama di bidang pengadaan logistik.

Bayangkan, setiap hari Amerika mengeluarkan dana hampir USD 300 juta. Atau sekitar Rp 5 triliun. Sekali lagi: itu setiap hari. Selama 7.000 hari terus-menerus. Semua itu harus dikerjakan oleh swasta. Asing maupun lokal.

Tapi mengapa Taliban menduduki istana swasta ini? Bukankah banyak orang superkaya baru lainnya?

Dostum itu beda –di mata Taliban. Dostum adalah the most wanted person di mata mereka. Sebagai jenderal, Dostum banyak memimpin perlawanan terhadap Taliban. Bahkan di masa pendudukan Amerika Dostum dianggap pernah melakukan pembantaian tahanan Taliban dalam jumlah besar –lebih 1.000 orang sekaligus. Yakni di sebuah padang yang terisolasi di Afghanistan.

(Abdul Rashid Dostum. Foto: disway)

Bahwa Dostum kini menghilang itu sudah menjadi bagian dari hidupnya. Di masa Taliban 1.0 berkuasa, Dostum lari ke Peshawar, kota di Pakistan yang terdekat dengan Afghanistan. Ia juga pernah lari ke Turki. Atau ke Uzbekistan.

Dostum punya rumah di banyak negara. Ia juga salah satu penggemar minuman keras Rusia, Vodka. Ia tidak bisa hidup tanpa itu. Berner made in Jerman selalu ada di rumahnya.

Ketika ditanya media berapakah istrinya, Dostum menjawab dengan canda: Tuhan hanya satu, istri juga harus hanya satu.

Karir politik tertinggi Dostum adalah menjadi wakil presiden. Selama 6 tahun. Cukup lama untuk ukuran sebuah negara yang belum stabil. Yakni antara 2014 sampai 2020. Di Pilpres 2020 ia maju sebagai Capres. Kalah. Ia tidak masuk lagi di kabinet Presiden Ashraf Ghani berikutnya.

Taliban akan menjadikan istana Dostum itu sebagai peringatan: tidak boleh lagi ada korupsi yang seperti ini.

Tapi prinsip Dostum tentu sangat berbeda dengan Taliban. Inilah motto Dostum yang sangat terkenal: “Kita tidak akan mendukung pemerintahan mana pun yang melarang musik dan wiski.” (Dahlan Iskan)