BANGSAONLINE.com - Layak jika Baghdad dikenal sebagai pusat peradaban dan kebudayaan Islam setelah masa Khalifah Al-Mansyur.
Baghdad di masa pemerintahan Abbasiyah telah memenuhi cahaya ilmu dengan pesatnya pembangunan seni dan budaya Islam.
BACA JUGA:
- DPRD Jatim Terima LKPJ 2025, Gubernur Khofifah Tekankan Sinergi Eksekutif-Legislatif
- Dominasi Prestasi Nasional Raih 45.839 Medali di SIMT , Gubernur Khofifah Sampaikan Hal ini
- Goes To Campus UAC, Gubernur Lemhanas: Dari Rahim Pesantren Lahir Indonesia
- Pemprov dan DPRD Jatim Setujui 2 Raperda Strategis
Pembangunan masif diwujudkan dengan pembangunan sekolah, madrasah, masjid, istana, dan pembangunan perpustakaan yang bersejarah.
Perkembangan intelektual islam di Baghdad ini banyak mendatangkan tokoh-tokoh ilmuan tertinggi baik dalam bidang ilmu umum maupun agama.
Sehingga, pada tahun 800 M, Kota Baghdad telah menjelma menjadi kota besar yang menjadi pusat pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan politik.
Kota ini semakin menarik banyak ilmuwan dari seluruh dunia untuk mencari ilmu.
Termasuk Syekh Abdul Qadir Al Jailani, yang merupakan warga Jilan Iran, yang kemudian memutuskan untuk hijrah menimba ilmu menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M.
Menimba ilmu di pusat peradaban yang kemudian hingga kini masyhur dikenal sebagai pelopor sufisme thariqati dunia.
Perpusatakaan yang menjadi magnet para ilmuwan menuju Baghdad turut menarik perhatian Khofifah Indar Parawansa.
Selama berada di Kota Baghdad, Irak, salah satu tempat yang sangat ingin ia kunjungi adalah perpusatakaan.
“Di Irak ada tiga perpustakaan besar saat ini. Pertama adalah perpustakaan nasional, kedua perpustakaan milik kementerian wakaf, dan ketiga perpustakaan Al Qodiriyah yang berada di Kompleks Syech Abdul Qadir Jailani,” kata Khofifah, Rabu (29/5/2024).
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




